Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Peningkatan suku bunga acuan secara agresif dinilai tidak tepat untuk diterapkan dalam menyikapi situasi inflasi global saat ini. Sebab, persoalan utama yang dihadapi saat ini berada pada sisi suplai maupun pasokan, bukan permintaan.
Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Bloomberg CEO Forum: Moving Forward Together, Jumat (11/11). "Jika sumber kenaikan (inflasi) di sisi penawaran, maka tidak bisa begitu saja menggunakan tingkat suku bunga untuk benar-benar meredam inflasi," ujarnya.
Bergerak liarnya tingkat inflasi saat ini, kata Sri Mulyani, mesti dilihat sebab utamanya. Ini berangkat dari permasalahan rantai pasok global yang terhambat, akibat dampak pandemi dan juga perang Rusia-Ukraina yang berujung pada terbatasnya pengiriman bahan pangan dan energi.
Alih-alih terus menaikkan suku bunga acuan dan berharap inflasi melandai, tiap negara mestinya mencari solusi untuk mengatasi ihwal pasokan yang tersendat. "Ini saya sampaikan di forum G20 di Washington kemarin, menggunakan suku bunga itu seperti antibiotik, akan mempengaruhi keseluruhan ekonomi," jelas menkeu.
Penanganan dan pengendalian inflasi di Indonesia, misalnya, lanjut perempuan yang karib disapa Ani tersebut, terbilang berhasil lantaran Bank Indonesia dengan pemangku kepentingan lain bergerak bersama mengatasi persoalan ketersediaan pangan.
Itu dilakukan melalui Tim Pengendali Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/D) dan Gerakan Nasional Pengendali Inflasi Pangan (GNPIP) yang terus digalakkan. Selain itu, pemerintah pusat juga menjanjikan insentif kepada pemerintah daerah yang berhasil menekan peningkatan inflasi di wilayahnya.
Hal tersebut juga dilakukan menyusul dari penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal September 2022. Guna mengantisipasi dampak kenaikan harga bensin, pemerintah kemudian mempertebal perlindungan sosial guna menjaga daya beli masyarakat, utamanya golongan rumah tangga menengah ke bawah.
Hasilnya, inflasi di Indonesia terbilang relatif terkendali bila dibandingkan dengan banyak negara lain. "Kami awalnya berekspektasi pada saat itu inflasi akan naik sebesar 6,8%. Namun apa yang terjadi? inflasi kita hanya meningkat menjadi 5,9% dan sekarang di 5,7%, bahkan deflasi terjadi pada bulan September dan Oktober," urai Ani.
"Itu yang dilakukan Indonesia dan itu bagus. Kita masih dapat melihat konsumsi yang masih sangat kuat pada triwulan ketiga, golongan rumah tangga menengah ke atas sebenarnya melakukan hal yang sangat sangat kuat dalam mendukung masalah pemulihan ini," pungkas dia. (OL-12)
BANK Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2025 yang berada pada rentang 4,7%–5,5%.
Memasuki awal 2026, lanskap ekonomi global menunjukkan tanda-tanda stabilisasi yang lebih nyata dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Pemprov DKI mengalokasikan Rp6,4 triliun untuk subsidi transportasi, air, dan pangan pada 2025 demi menjaga daya beli warga.
Lonjakan harga emas dunia yang menembus level psikologis USD 4.700 per troy ons dipicu oleh pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump.
Pemprov Jateng juga mengandalkan sistem pemantauan harga harian di pasar-pasar tradisional untuk mendeteksi potensi kenaikan harga sejak dini.
Beberapa komoditas pangan seperti cabai dan sayur justru mengalami penurunan harga dalam beberapa waktu terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved