Jumat 11 November 2022, 13:12 WIB

Sri Mulyani Beberkan Penanganan Inflasi Indonesia

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Sri Mulyani Beberkan Penanganan Inflasi Indonesia

Biro Pers Setpres
Menkeu Sri Mulyani

 

Peningkatan suku bunga acuan secara agresif dinilai tidak tepat untuk diterapkan dalam menyikapi situasi inflasi global saat ini. Sebab, persoalan utama yang dihadapi saat ini berada pada sisi suplai maupun pasokan, bukan permintaan.

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Bloomberg CEO Forum: Moving Forward Together, Jumat (11/11). "Jika sumber kenaikan (inflasi) di sisi penawaran, maka tidak bisa begitu saja menggunakan tingkat suku bunga untuk benar-benar meredam inflasi," ujarnya.

Bergerak liarnya tingkat inflasi saat ini, kata Sri Mulyani, mesti dilihat sebab utamanya. Ini berangkat dari permasalahan rantai pasok global yang terhambat, akibat dampak pandemi dan juga perang Rusia-Ukraina yang berujung pada terbatasnya pengiriman bahan pangan dan energi.

Alih-alih terus menaikkan suku bunga acuan dan berharap inflasi melandai, tiap negara mestinya mencari solusi untuk mengatasi ihwal pasokan yang tersendat. "Ini saya sampaikan di forum G20 di Washington kemarin, menggunakan suku bunga itu seperti antibiotik, akan mempengaruhi keseluruhan ekonomi," jelas menkeu.

Penanganan dan pengendalian inflasi di Indonesia, misalnya, lanjut perempuan yang karib disapa Ani tersebut, terbilang berhasil lantaran Bank Indonesia dengan pemangku kepentingan lain bergerak bersama mengatasi persoalan ketersediaan pangan.

Itu dilakukan melalui Tim Pengendali Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/D) dan Gerakan Nasional Pengendali Inflasi Pangan (GNPIP) yang terus digalakkan. Selain itu, pemerintah pusat juga menjanjikan insentif kepada pemerintah daerah yang berhasil menekan peningkatan inflasi di wilayahnya.

Hal tersebut juga dilakukan menyusul dari penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal September 2022. Guna mengantisipasi dampak kenaikan harga bensin, pemerintah kemudian mempertebal perlindungan sosial guna menjaga daya beli masyarakat, utamanya golongan rumah tangga menengah ke bawah.

Hasilnya, inflasi di Indonesia terbilang relatif terkendali bila dibandingkan dengan banyak negara lain. "Kami awalnya berekspektasi pada saat itu inflasi akan naik sebesar 6,8%. Namun apa yang terjadi? inflasi kita hanya meningkat menjadi 5,9% dan sekarang di 5,7%, bahkan deflasi terjadi pada bulan September dan Oktober," urai Ani.

"Itu yang dilakukan Indonesia dan itu bagus. Kita masih dapat melihat konsumsi yang masih sangat kuat pada triwulan ketiga, golongan rumah tangga menengah ke atas sebenarnya melakukan hal yang sangat sangat kuat dalam mendukung masalah pemulihan ini," pungkas dia. (OL-12)

Baca Juga

Antara/Muhammad Adimaja

Dana Menumpuk Akibat Serapan Seret, Kemenkeu : Timbulkan Opportunity Lost

👤Despian Nurhidayat 🕔Kamis 01 Desember 2022, 00:21 WIB
Pemda diharapkan segera melaksanakan kontrak dan mempercepat proses pengadaan barang dan jasa setelah perubahan...
Dok.Ist

Jasa Interior Ini Banjir Pesanan Sejak  Pandemi

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 30 November 2022, 23:30 WIB
Hal lain yang membuat CG Interior lebih unggul adalah manufaktur dari mebel dan perabotan yang dilakukan sendiri di pabrik...
Ist

Ahli Waris Pegawai Lion Group Dapat Santunan JKK Sebesar Rp 448 Juta

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 30 November 2022, 23:11 WIB
Santunan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) BPJS Ketenagakerjaaan diterima ahli waris dari karyawan Lion Group yakni istrinya Megawati...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya