Sabtu 11 Juni 2016, 01:20 WIB

Cara Organik Mengembalikan Kopi Pipikoro

(TB/M-3) | Ekonomi
Cara Organik Mengembalikan Kopi Pipikoro

MI/TAUFAN BUSTAN

 

PEGUNUNGAN bagian selatan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, bukanlah wilayah yang mudah dilalui. Jalanan tanah yang rata sudah sesuatu yang harus disyukuri karena banyak jalan lainnya ialah jalan setapak melintasi sungai, melintasi lereng bekas longsor, ataupun jalan dengan penuh batuan besar. Meski begitu, memang ada alasan kuat yang membuat desa-desa di pegunungan itu layak dikunjungi. Di Desa Pelempea di Kecamatan Pipikoro, magnet kuat itu adalah budi daya kopi yang beberapa tahun ini bangkit lagi. Media Indonesia berkesempatan melihatnya pada Sabtu (14/5) lewat kegiatan 'Journalist Trip' yang diprakarsai Yayasan Perspektif Baru, Sulawesi, dan Karsa Institute.

Desa Pelempea memiliki sekitar 100 hektare perkebunan kopi dan seluruhnya berada di kawasan hutan kemasyarakatan (HKm). Bangkitnya budi daya kopi dimulai pada 2003 lewat bimbingan Karsa Institute. Sebelumnya, masyarakat mengabaikan tanaman yang diperkenalkan di sana pada masa penjajahan oleh Belanda tersebut dan lebih suka menggarap kakao. "Karena kakao dulu sangat menjanjikan, makanya masyarakat di Pelempea mengabaikan kopinya dan fokus di kakao," aku warga Pelempea, Yotanan Tari. Pengabaian kopi itu disayangkan karena sebenarnya tanaman tersebut memiliki lebih banyak kelebihan ekologis. Selain itu, kopi bernilai ekonomis dan bisa untuk memenuhi konsumsi harian warga sendiri.

Bentuk akar tanaman kopi sebenarnya sama dengan tanaman kakao, yakni berakar tunggang. Dengan begitu, ia memiliki kemampuan pengikatan tanah yang tidak berbeda. Namun, Direktur Eksekutif Karsa Intitute Rahmat Saleh mengungkapkan budi daya kopi dapat dilakukan dengan tanaman pendamping, sementara kakao sebaliknya. Dengan begitu di wilayah kebun kopi juga tetap bisa ditanami tanaman kehutanan yang bagus mengikat tanah dan menambah unsur hara. "Ketika dari jauh kita melihat perkebunan kopi Pipikoro seperti hutan, padahal di situ perkebunan kopi karena banyak tanaman hutan lainnya yang menaungi," kata Rahmat.
Salah satu tanaman naungan yang disarankan di sana adalah Erythrina atau dikenal sebagai dadap. Tanaman dari keluarga Legum itu memiliki perakaran yang baik dan guguran daunnya dapat menjadi humus yang ikut menyuburkan tanaman kopi.

Di sisi lain, terdapat pula batasan zonasi perkebunan kopi. Tanaman kopi dilarang ditanam di lahan dengan kemiringan di atas 45 derajat karena kemiringan memang tersebut sudah tidak ideal untuk perkebunan. Selain itu, kegiatan perkebunan tidak dapat dilakukan di lahan tempat sumber air. Aturan itu sudah menjadi kearifan lokal dan warga menyebutnya sebagai taolo. Aturan itu mereka tegakkan di seluruh kawasan HKm yang mencakup juga sampai ke Desa Mapahi, Peana, dan Porelea. Total kawasan yang dilarang bagi perkebunan itu mencapai 15% dari total luas HKm, yakni 514 hektare. Tidak hanya itu, warga pun berkomitmen dengan perkebunan cara organik. Mereka merawat tanaman kopi tanpa menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Panen meningkat
Cara organik terbukti mendatangkan hasil panen yang baik hingga makin banyak warga kembali ikut membudidayakan kopi. Camat Pipikoro, Smart P Tapue, mengatakan perkebunan kopi di Pelempea dari ke tahun juga mulai terus berkembang. Bahkan jika dilihat dari rata-rata hasil panen petani per tahun bisa mencapai 50 hingga 80 ton per tahun. "Hasil perkebunan kopi di daerah tersebut sangat menunjang ekonomi masyarakat. Lihat saja beberapa rumah dari petani yang ada di daerah ini, hampir semua sudah dibangun secara permanen. Pembangunan itu bukan dari hasil lain, melainkan dari hasil kopi yang mereka tanam dan jual," ungkapnya.

Saat ini harga biji kopi memang cukup baik yakni di kisaran Rp20 ribu per kilogram (kg). Dengan hasil ini bahkan banyak warga sudah menjadikan budi daya kopi jenis robusta itu sebagai usaha utama dan budi daya kakao menjadi yang kedua. Wakil Bupati Sigi, Paulina, di kesempatan terpisah menambahkan pengembangan kopi di Pipikoro merupakan hal yang serius akan dilakukan pemerintahan yang baru dipimpinnya. Pengembangan itu bukan hanya lewat pendampingan dan bantuan produksi, melainkan juga promosi.

"Belum lama ini kami menggelar festival kopi di Pipikoro. Itu tujuan utamanya jelas hanya untuk promosi agar kopi Pipikoro punya pasar bukan hanya di lokal tetapi hingga ke pasar luar," sebutnya. Paulina mengatakan juga akan membuat unit pelaksana teknis yang khusus menangani kopi di Pipikoro. Nantinya, UPT tersebut yang menampung bahkan membeli kopi petani kemudian memasarkannya ke luar. "Di UPT itu nantinya kopi diolah mulai biji hingga menjadi bubuk. Kemudian dipaketkan dan dijual. Tapi sebelum itu kopi Pipikoro harus dipatenkan dulu merek dan hak ciptanya oleh pemerintah," terangnya.

Baca Juga

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

PLN Siap Dukung Sektor Bisnis hingga Tambang di Kalimantan

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Kamis 24 Juni 2021, 12:55 WIB
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Bisnis Regional Sumatera dan Kalimantan, Muhammad Iqbal Nur, pada acara 'Customer Smelters dan...
DOK KEMENTAN

Kandung Protein Tinggi, Permintaan Jamur Meningkat di Tengah Pandemi Covid-19

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 24 Juni 2021, 12:52 WIB
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Tommy Nugraha mengapresiasi petani muda yang melirik budidaya...
Dok. BRI Agro

Buat Community Branch, Strategi BRI Agro Layani Gig Economy dan Digital

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 24 Juni 2021, 12:25 WIB
Dengan adanya Community Branch, BRI Agro dapat lebih unggul untuk tetap fokus pada layanan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Diplomasi Jalur Rempah di Kancah Dunia

Perjalanan sejarah Indonesia terasa hambar tanpa aroma rempah. Warisan sosial, ekonomi, serta budaya dan ilmu pengetahuan itu kini dikemas dan disodorkan kepada dunia untuk diabadikan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya