Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Raup Laba Bersih Rp19 T, Pertamina Setor Dividen 35,8%

Jes/AU/E-2
01/6/2016 07:45
Raup Laba Bersih Rp19 T, Pertamina Setor Dividen 35,8%
(ANTARA/Puspa Perwitasari)

PT Pertamina (persero) mencatat laba bersih selama 2015 sebesar US$1,42 miliar (Rp19 triliun) atau turun 1,8% dari 2014. Sekitar 35,8% dari jumlah itu disetorkan sebagai dividen.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan harga minyak dunia yang selama tahun lalu anjlok 66% jadi biang kerok terjerembapnya laba bersih perusahaan migas dunia. Laba bersih Shell, misalnya, anjlok 80% dari 2014, sedangkan penurunan pada laba Petronas mencapai kisaran 60%. Ketimbang mereka, kinerja Pertamina jauh lebih baik.

"Harga minyak turun sampai 66%, pendapatan turun 40%, tapi EBITDA hanya turun 10%. Itu membuat margin EBITDA naik dari 8,12% pada 2014 menjadi di atas 12% tahun lalu dan itu margin EBITDA terbaik dalam lima tahun terakhir. Itu ukuran dari operasional yang meningkat," papar Dwi saat jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Menurunya, kinerja keuangan Pertamina 2015 merupakan capaian terbesar. Di tengah lesunya bisnis migas, Pertamina masih bisa membayar utang US$4,07 miliar. Pun, modal kerja tahun lalu US$3,62 miliar direalisasikan penuh dengan 75%-nya dialokasikan di bisnis hulu. "Dari laba bersih Rp19 triliun, dalam RUPS (rapat umum pemegang saham) diputuskan dividen Rp6,8 triliun," imbuh Dwi.

Dalam kesempatan sama, Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengungkapkan, di kuartal I 2016 pun, laba bersih Pertamina tercatat tumbuh positif. "Naiknya cukup tinggi ketimbang periode yang sama tahun lalu," ujarnya enggan merinci.

Perolehan itu diraih dengan efisiensi masif perseroan. BUMN energi itu tercatat meraih efisiensi dan nilai tambah US$608,41 juta selama 2015. Efisiensi dilakukan dengan optimalisasi peran integrated supply chain (ISC) Pertamina dan efisiensi di bisnis hilir.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang menambahkan pihaknya telah menekan biaya distribusi 16,7% dari US$19,26 per kl menjadi US$16,07 per kl. "Biaya kapal juga kita turunkan dari US$12,31 menjadi US$12,23 per kl," tuturnya.

Mengenai aksi korporasi, Arief mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi dengan PT PGN (persero) Tbk untuk bersinergi secara operasional dan investasi. Menurutnya, wacana pembentukan holding BUMN energi masih dibicarakan para pemegang saham kedua BUMN itu. "Holding bukan keputusan korporasi, tapi kami sudah ada tim gabungan holding secara operasional. Itu melihat dari sisi operasi dan investasi. Banyak investasi bisa disinergikan. Perkiraan kasar saja, potensi overlapping investasi sampai US$1,6 miliar dalam dua tahun ke depan," tuturnya. (Jes/AU/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya