Jumat 11 Februari 2022, 16:37 WIB

YLKI: Tak Ada Pilihan, Harga Pertamax Memang Harus Disesuaikan

mediaindonesia.com | Ekonomi
YLKI: Tak Ada Pilihan, Harga Pertamax Memang Harus Disesuaikan

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Petugas SPBU bersiap melayani pembeli bakar minyak (BBM) di SPBU daerah Jakarta Pusat.

 

KETUA Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi menilai, rencana penyesuaian harga Pertamax memang tak bisa dihindari. Selain harga minyak dunia yang terus melambung, juga karena SPBU swasta pun sudah beberapa kali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Memang tak ada pilihan. Kalau tidak disesuaikan, dikhawatirkan justru berdampak terhadap pelayanan kepada konsumen,” kata Tulus di Jakarta, Jumat (11/2). 

Menurut Tulus, kondisi real saat ini, memang membuat Pertamina tak punya opsi lain, kecuali menaikkan harga Pertamax. Kondisi dimaksud, adalah harga minyak dunia yang terus melambung.

Seperti diketahui, untuk jenis Brent misalnya, sekarang sudah menyentuh level USD91,46 per barel.

Harga tersebut adalah rekor dan tertinggi sejak 2014. Bahkan, SPBU swasta seperti Shell, sudah beberapa kali menaikkan harga BBM mereka. Untuk jenis RON 92, contohnya, saat ini harga produk Shell sudah Rp4.000 di atas Pertamax. 

Baca juga: Komunitas Otomotif Tak Keberatan Pertamax Naik

“Pertamina tidak mungkin menjual rugi produknya. Dan saat ini, kerugian Pertamina dari Pertamax, yang saya dengar cukup tinggi. Dari sana, ya memang tak ada pilihan. Apalagi, menaikkan harga Pertamax merupakan aksi korporasi,” papar Tulus.  

Di sisi lain, Tulus tidak menepis jika saat ini tingkat konsumsi Pertamax sudah semakin tinggi, yakni 20 persen dari total konsumsi gazoline. “Karena itulah, jika Pertamina terus bertahan dengan harga saat ini, tentu kerugian yang dialami semakin membengkak,” imbuh Tulus.  

Pertamax sendiri, menurut Tulus, merupakan BBM yang bisa menjadi pilihan terbaik bagi konsumen. Dilihat dari kandungan oktan, contohnya, Pertamax memang lebih tinggi dibandingkan jenis lain. 

“Jadi, sebetulnya konsumen diuntungkan kalau pakai Pertamax, karena kandungan energinya lebih tinggi sehingga jarak tempuh per liter juga lebih jauh. Misal kalau beli Pertamax, 1 liter bisa 12 kilometer, tetapi Pertalite hanya untuk 10 kilometer, dan Premium untuk 8 kilometer,” kata Tulus.

Belum lagi dari sisi lingkungan. Dengan tingkat oktan yang tinggi, tentu pembakaran lebih sempurna sehingga bisa mengurangi emisi gas buang.

“Dan saya kira, kalau komit untuk global climate change tentu penggunaan BBM harus semakin baik, yaitu yang semakin baik untuk lingkungan,” pungkasnya. (RO/OL-09)

Baca Juga

Antara

PLN Bisa Hemat Rp10 M dari Pembelian Listrik PLTM Pantan Cuaca Aceh

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 23:49 WIB
PLTM Pantan Cuaca berlokasi di Kabupaten Gayo Lues berkapasitas 4,5 MW dengan nilai investasi sebesar Rp 160...
Dok. BEBS

Jalin MoU Dengan WIKA, BEBS Akan Lakukan Pembangunan Infrastruktur di Azerbaijan

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 23:32 WIB
Direktur Utama BEBS Hasan Muldhani mengungkapkan, rencana ekspansi usaha BEBS-WIKA tersebut dalam bentuk Kerja sama Operasi untuk...
ANTARA FOTO/DHemas Reviyanto

BUMN yang Sehat Beri Dampak Besar Bagi Negara dan Masyarakat

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 22:45 WIB
"Sejak awal, kita berkomitmen melakukan transformasi menyeluruh dengan memperbaiki proses dan fokus bisnis hingga penerapan budaya...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya