Senin 01 Februari 2021, 13:20 WIB

Masih Dibayangi Pandemi, Inflasi Januari 0,26%

M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Masih Dibayangi Pandemi, Inflasi Januari 0,26%

MI/Susanto
Pedagang menata barang dagangannya di Pasar Tebet, Jakarta, Selasa (05/01/2021).

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,26% di Januari 2021, atau tumbuh melambat dari posisi Desember 2020 yang sebesar 0,45%. Sedangkan angka inflasi tahunan berada di level 1,55%, angka itu juga lebih rendah bila dibandingkan dengan Januari 2020 (yoy) yang mencapai 2,68%.

"Memasuki 2021 ini, dampak pandemi covid-19 tampaknya belum reda, masih membayangi berbagai perekonomian di berbagai negara termasuk Indonesia. Kita tahu selama pandemi, mobilitas berkurang, roda ekonomi bergerak lambat, berpengaruh pada pendapatan, dan pada akhirnya berpengaruh pada lemahnya permintaan," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Senin (1/2).

Angka inflasi yang sebesar 0,26% di Januari 2021 itu didapat dari hasil pemantauan di 90 kota Indeks Harga Konsumen (IHK). Dari total kota yang dipantau tersebut, 75 kota mengalami inflasi dan 15 lainnya mengalami deflasi.

Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menjadi wilayah yang mengalami inflasi tertinggi sebesar 1,43%. Itu terjadi karena adanya kenaikan harga pada komoditas cabai rawit dan berbagai jenis ikan segar. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Baubau, Sulawesi Tenggara, sebesar 0,92% karena adanya penurunan harga tiket angkutan udara dan turunnya harga beberapa jenis ikan segar.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,81%, tertinggi dari 11 kelompok pengeluaran yang ada dan memberi andil pada tingkat inflasi sebesar 0,21%. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi ialah cabai rawit sebesar 0,08%, ikan segar 0,04%, serta harga tahu dan tempe sebesar 0,02%.

"Kenaikan harga cabai rawit terjadi di 87 kota dan tertinggi terjadi di Kupang dan disusul Bima. Sementara kenaikan harga tempe dan tahu mentah, kita tahu pada Januari kemarin terjadi kenaikan harga kedelai impor yang pada akhirnya berimbas pada biaya produksi," jelas Suhariyanto.

Sedangkan kelompok pengeluaran transportasi menjadi satu-satunya yang mengalami deflasi, yakni sebesar 0,30% dan memberikan andil pada deflasi sebesar 0,04%. Hal itu terjadi karena adanya penurunan tarif angkutan udara dan memberikan andil sebesar 0,06%. Sedangkan komoditas di kelompok pengeluaran transportasi yang mengalami inflasi ialah tarif jalan tol sebesar 0,02%.

BPS juga mencatat, tiga komponen pembentuk inflasi seperti gejolak harga (volatile price), harga yang diatur pemerintah (administered price), dan inflasi inti mengalami inflasi masing-masing sebesar 1,15%, 0,19% dan 0,14%.

Inflasi inti yang menggambarkan daya beli masyarakat, imbuh Suhariyanto, menunjukkan adanya penguatan bila dilihat secara bulanan, tapi melemah bila dibandingkan secara tahunan.

"secara tahunan, inflasi inti melemah menjadi 1,56% yang menandakan bahwa permintaan domestik memang masih lemah," pungkas Suhariyanto. (E-2)

Baca Juga

Dok. Kementerian ATR/BPN

Kementerian ATR/BPN Gelar Sosialiasi PP Turunan UU Cipta Kerja Bidang Pengendalian Fungsi Tanah dan Ruang 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 00:11 WIB
Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (Ditjen PPTR) membawahi beberapa PP, yaitu PP Nomor 18 Tahun 2021 tentang...
Dok. Kemendag

UKM Binaan ECP Kemendag Sukses Perluas Pasar Ekspor Furniture ke UEA 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:52 WIB
CV Mebel Internasional merupakan peserta ECP untuk wilayah Jawa Tengah yang berhasil mendapatkan permintaan dari UEA dengan memanfaatkan...
Dok. Diamondland

Ikut Bantu Pencapaian Herd Immunity dan Pemulihan Ekonomi, Diamonland Gelar Vaksinasi Massal 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:06 WIB
Kegiatan itu merupakan bentuk tanggung jawab sosial dalam menyukseskan pencapaian herd immunity melalui vaksinasi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya