Sabtu 09 Januari 2021, 12:05 WIB

Kurs Rupiah Ditutup 14.058, Inflasi Januari Diperkirakan 0,38%

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Kurs Rupiah Ditutup 14.058, Inflasi Januari Diperkirakan 0,38%

ANTARA FOTO/Fauzan
Tahu, salah satu penyumbang utama inflasi

 

MENCERMATI kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran covid-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah periode 4-7 Januari 2021. Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi.

Bank Indonesia mencatat perkembangan nilai tukar rupiah pada Kamis, (7/1) ditutup pada level Rp13.890 per dolar AS.

"Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun tercatat naik ke level 5,98%. Indeks dolar DXY melemah ke level 89,83. Sedangkan Yield UST (US Treasury) tenor 10 tahun naik ke level 1,08%," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, melalui rilis yang diterima, Sabtu (9/1).

Pada pagi hari Jumat (8/1), rupiah dibuka pada level Rp13.900 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun terpantau naik ke 6,1%.

Berdasarkan data transaksi 4-7 Januari 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli bersih Rp6,06 triliun dengan beli bersih di pasar SBN sebesar Rp5,03 triliun dan di pasar saham sebesar Rp1,03 triliun. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik beli beli sebesar Rp10,41 triliun.

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu I Januari 2021, perkembangan harga pada bulan Januari 2021 diperkirakan mengalami inflasi sebesar 0,38% (mtm).

Baca juga:  Inflasi Jakarta Pada Desember Tetap Rendah dan Terkendali

Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Januari 2021 secara tahun kalender sebesar 0,38% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,68% (yoy).

Penyumbang utama inflasi yaitu cabai rawit sebesar 0,09% (mtm), cabai merah sebesar (0,05%), tempe dan tahu masing-masing sebesar 0,03% (mtm), emas perhiasan dan tarif angkutan antarkota masing-masing sebesar 0,02% (mtm), ikan kembung, daging ayam ras, udang basah, ikan tongkol dan nasi dengan lauk masing-masing sebesar 0,01% (mtm).

Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas telur ayam ras sebesar -0,03% (mtm) dan bawang merah sebesar -0,02% (mtm).

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran covid-19, dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langka koordinasi kebijakan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.(OL-5)

Baca Juga

Dok. Kementerian ATR/BPN

Kementerian ATR/BPN Gelar Sosialiasi PP Turunan UU Cipta Kerja Bidang Pengendalian Fungsi Tanah dan Ruang 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 00:11 WIB
Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (Ditjen PPTR) membawahi beberapa PP, yaitu PP Nomor 18 Tahun 2021 tentang...
Dok. Kemendag

UKM Binaan ECP Kemendag Sukses Perluas Pasar Ekspor Furniture ke UEA 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:52 WIB
CV Mebel Internasional merupakan peserta ECP untuk wilayah Jawa Tengah yang berhasil mendapatkan permintaan dari UEA dengan memanfaatkan...
Dok. Diamondland

Ikut Bantu Pencapaian Herd Immunity dan Pemulihan Ekonomi, Diamonland Gelar Vaksinasi Massal 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:06 WIB
Kegiatan itu merupakan bentuk tanggung jawab sosial dalam menyukseskan pencapaian herd immunity melalui vaksinasi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya