Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA pandemi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menangani sekitar 6-7 bank yang bermasalah. Angka ini cenderung sama dengan kondisi normal, sehingga tidak dapat dipastikan covid-19 sebagai penyebab utama gagalnya bank-bank tersebut.
“Memang sudah ada bank-bank kecil yg masuk ke LPS, mungkin mendekati 6 sampai 7 bank kecil. Tapi ini belum berada pada level yang membahayakan, karena biasanya setiap tahun kami juga menerima 6 hingga 7 BPR (bank perkreditan rakyat) yang harus ditangani. Dari situ walau ada yang gagal, tapi masih dalam batas normal,” ujar Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (27/10).
LPS telah bersiap diri menangani kemungkinan ada bank yang benar-benar mengalami kegagalan dan membutuhkan dukungan. Ia memahami pandemi covid-19 telah memberikan tekanan yang luar biasa bagi perekonomian, tak terkecuali pada bank-bank kecil.
Kendati begitu, hingga saat ini belum ada tanda atau sinyal membahayakan mengenai kondisi perbankan nasional. Menurut Purbaya, tekanan di sektor keuangan memang meningkat, tapi masih berada di dalam situasi yang dapat dikendalikan.
Di kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengungkapkan, sektor perbankan saat ini masih berada dalam kondisi yang baik. Itu ditandai dengan tingkat permodalan dan likuiditas yang memadai dan profil risiko yang terjaga.
“Rasio permodalan bank terjaga pada level cukup tinggi. Pada Agustus 2020 ada di level 23,39%, dibanding triwulan II 2020 yang berada pada 22,5%. Kecukupan likuiditas perbankan terjaga yang ditunjukkan dengan berbagai indikator, antara lain alat likuid per non core deposit hingga 14 Oktober 2020 menguat 153,6% sedangkan pada triwulan II 2020 sebesar 122,59%,” terang Wimboh. (OL-14)
PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo).
Di tengah beragamnya penawaran investasi dengan profil risiko yang bervariasi, semakin banyak masyarakat yang mencari alternatif lebih stabil, aman, dan tetap menguntungkan.
Fleksibilitas deposito memungkinkan investor lebih leluasa dalam menyusun strategi jangka menengah dan pendek.
Pemanfaatan data kependudukan yang akurat akan menjadi faktor utama dalam mendorong efisiensi layanan perbankan serta meningkatkan inklusivitas keuangan bagi masyarakat
Ketua Umum Perbarindo Tedy Alamsyah menegaskan pengembangan SDM unggul sangat penting dalam menjaga daya saing BPR, terutama di era digitalisasi perbankan.
Pada 6 hingga 8 Februari 2025, Perbarindo menggandeng Universitas Merdeka Malang untuk pelaksanaan TOT batch 2 bagi dosen perguruan tinggi di wilayah Jawa Timur.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Menurut Pramono, pencatatan saham Bank Jakarta di BEI tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga mendorong profesionalisme perusahaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total penempatan Rp276 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.
MANTAN Kepala PPATK Yunus Husein menilai pemajangan uang tunai hasil rampasan kasus korupsi dan sitaan negara oleh aparat penegak hukum tidak diperlukan dan cenderung tidak efisien.
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved