Selasa 20 Oktober 2020, 21:00 WIB

Indonesia Lebih Siap Resesi Dibandingkan Krisis Ekonomi 1998

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Indonesia Lebih Siap Resesi Dibandingkan Krisis Ekonomi 1998

Antara/Nova Wahyudi
Ilustrasi

 

Pengamat Ekonomi Unismuh, DR Abdul Muthalib Hamid mengatakan, saat ini Indonesia lebih siap menghadapi resesi jika dibandingkan dengan krisis ekonomi pada 1998.

Hal itu dikemukakan Muthalib di Makassar, Selasa (20/10), merefleksi setahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo di tengah gonjang-ganjing ekonomi sebagai dampak covid-19.

Dia mengatakan, krisis moneter 1998 yang dipicu oleh krisis mata uang negara berkembang memang sedikit mirip dengan kondisi saat ini yang mata uang negara berkembang termasuk Indonesia terus mengalami pelemahan.

“Saya melihat Indonesia saat ini lebih siap menghadap krisis ekonomi dibanding tahun 1998. Sedang pada 2018 krisis dimulai dari Turki, Argentina dan merembet ke negara berkembang lainnya," katanya.

Baca juga : https://mediaindonesia.com/read/detail/306651-ini-dua-faktor-penyebab-kurs-rupiah-naik-turun

Menurut dia, selain nilai mata uang yang terus melemah serta pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami kemunduran dua kuartal berturut turut, hendaknya mewaspadai utang luar negeri yang bisa saja memicu terjadinya resesi.

Dia mengingatkan, salah satu penyebab munculnya resesi karena utang luar negeri yang sulit dikembalikan atau dibayar atau dengan kata lain, besaran utang luar negeri tidak sebanding kemampuan cadangan likuiditas APBN dan financial sektor publik untuk membayar utangnya pada saat jatuh tempo.

Jika menilik lebih dalam, cadangan devisa Indonesia di 1998 sekitar US$23 miliar, sedangkan hingga pada 2020 pada kisaran US$120 miliar.

Sementara pertumbuhan ekonomi tahun 1997-1998 pada level -13 persen, sedangkan saat ini hingga kuartal II di 2020 ekonomi Indonesia berkontraksi pada -5,32 persen.

“Kalau kita memperhatikan kondisi utang luar negeri Indonesia saat ini dibawah rezim Jokowi, maka nampaknya utang luar negeri Indonesia pada saat ini jauh lebih membengkak dari tahun 1998," katanya.

Kondisi ini dinilai sangat mengganggu karena berpotensi membahayakan apalagi dalam perbaikan sistem keuangan lndonesia. Tidak hanya itu, keadaan ini dapat menjadi indikator dalam mengevaluasi potensi resesi ekonomi Indonesia pada kuartal IV di 2020.

Menurut dia, jika resesi terjadi di Indonesia, maka berbagai lini ekonomi akan terpengaruh dan puncaknya akan menambah angka pengangguran dan kemiskinan. (Ant/OL-12)

Baca Juga

Ist

Manufacturing Indonesia Gairahkan Kembali Industri Manufaktur

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 November 2020, 23:55 WIB
Program hybrid Pamerindo diimplementasikan melalui platform Business Meeting dan Digital Showroom yang didukung smart environment...
Ist

Strategi Produsen Baja Ringan Bertahan di Masa Pandemi

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 November 2020, 22:15 WIB
Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, pelaku usaha konstruksi juga harus jeli melihat...
Ist

Mentan Syahrul Pantau Aktivitas Jual Beli Pasar Ternak Tallunglipu

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 November 2020, 21:00 WIB
Menurut Mentan, Pasar Tallunglipu bisa dikembangkan lebih modern dengan konsep pasar lokal yang terintegrasi dengan pembibitan dan budi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya