Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Dua Pengusaha Muda Asal Indonesia Melaju di Program YSE SIF

Achmad Maulana
10/9/2020 11:20
Dua Pengusaha Muda Asal Indonesia Melaju di Program YSE SIF
Para pengusaha muda dari seluruh dunia berkumpul untuk bertukar ide dan gagasan.(Dok.Ist)

PROGRAM Young Social Entrepreneurs (YSE) dari Singapore International Foundation (SIF) tetap memulai edisi 2020 dalam bentuk pengalaman digital terlepas dari pembatasan sosial yang diberlakukan akibat pandemi, demi terus membina para pemuda pembawa perubahan di dunia. Terdapat 109 pemuda dari 19 negara berkumpul secara virtual untuk Workshop YSE pada 3 Juli hingga 29 Agustus lalu.

Tahun  ini, angkatan  ke-11 program  YSE mempresentasikan  ide  bisnis  sosial mulai  dari pemanfaatan teknologi baru untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif, dan menganjurkan cara alternatif untuk  menyelamatkan  lingkungan,  hingga  memberdayakan  komunitas  yang  rentan  melalui  edukasi dan  pelatihan  kerja.  Terlepas  dari  pebedaan wilayah yang  terdampak dan  latar  belakang  budaya, semua tim memiliki tujuan yang sama untuk membawa perubahan yang berkelanjutan di komunitas tempat mereka beroperasi.

Baca juga: Kawasan Industri Jababeka Adakan 20 Workshop Bagi Tenant

Workshop YSE terdiri  dari  rangkaian  intensif  webinar  dan  klinik  bisnis  yang  dipimpin  oleh  para wirausahawan  sosial, thought  leaders,  dan  ahli  strategi  bisnis.  Peserta  mendapatkan  pengetahuan untuk  menjadi  wirausaha  sosial  yang  efektif dalam sesi keuangan,  pemasaran,  dan  pengukuran dampak.    Mereka    juga    dapat    berinteraksi    dengan    rekan-rekan    sepemikiran    dari    berbagai negara.

Setelah rangkaian kegiatan tersebut, 54 tim memaparkan rencana bisnis mereka kepada panel juri, dan kemudian 15 tim dipilih untuk maju ke tahap selanjutnya. Tim yang terpilih  terdiri  dari 29 pemuda  pembawa  perubahan  yang merepresentasikan sembilan negara, akan mengikuti  bimbinganlebih  lanjut  karena  ide  bisnis  mereka dinilai memiliki  potensi dampak  sosial  yang  signifikan,  berkelanjutan,  dan  skalabilitas pada model  bisnisnya.  Selama  enam bulan ke depan, mereka akan dibimbing oleh konsultan  bisnis terkemuka dari McKinsey & Company dan Temasek  International, untuk membentuk semangat  berwirausaha yang  relevan  dengan  sektor mereka.

Lebih jauh lagi, tim yang terpilih akan memiliki kesempatan untuk mengasah ketajaman bisnis, melebarkan perspektif budaya,dan memanfaatkan jaringan alumni YSE global yang terdiri dari lebih 1,200 anggota. Pada Maret 2021, semua tim akan berkumpul kembali di acara YSE Pitching for Change, dan mereka akan mempresentasikan rencana bisnis yang telah disempurnakan kepada panel juri untuk mendapatkan kesempatan pendanaan awal senilai hingga S$20,000.

“Di SIF, kami percaya kepada  semangat  untukmenyatukan  orang-orang  dari  budaya  yang  berbeda demi saling  memberikan  inspirasi dan  aksi untuk kebaikan. Meskipun kami tidak dapat membawa peserta YSE secara fisik ke Singapura tahun ini, wadah digital menawarkan peluang baru untuk menumbuhkan energi, semangat inovatif, dan hasrat dari pemuda pembawa perubahan yang didorong oleh rasa tujuan sosial yang kuat. Di masa tantangan ekonomi, iklim, dan tantangan kesehatan global, hal-hal tersebut bahkan menjadi lebih penting bagi kita untuk mempercepat laju inovasi sosial,” kata Duta Besar Ong Keng Yong yang juga Ketua SIF.

“Ini merupakan pengalaman yang membuka mata dan kami sangat bersyukur dapat menjadi bagian dari program  YSE. Sangat menyenangkan untuk saling  terhubung dengan  individu  yang  sepemikiran  dari seluruh dunia yang sama-sama ingin mengukir perjalanan menuju perubahan sosial. Kami menantikan untuk  dapat  bekerja  dengan  mentor  kami  dalam  beberapa  bulan mendatang  untuk  mempelajari bagaimana  kami  dapat  membawa  ide  wirausaha  sosial  ke  tingkat  berikutnya,” ungkap Rahul Milan Paleja, Co-Founder Heirloom dari Singapura.

“Di tengah pembatasan perjalanan, kami menghargai kesempatan untuk tetap dapat terhubung dengan para wirausahawan  sosial  dan  pemimpin  pasar  dari  negara  lain.  Sesi berbagi  pengetahuandan bertukar pikiran ini mengajarkan kami pentingnya memiliki perspektif global dalam mengelola bisnis sosial," ujar Febi Agil Ifdillah, Chief Executive Officer Neurafarm dari Indonesia.

Hal senada dikatakan Qiqi  Wei,  Co-Founder  CYOT (China  Youth  of  Tomorrow) dari Tiongkok  dan Bhavya   Singh,   Founder   Built   Empathy dari India. Sejak  2010, program  YSE  memberikan  kesempatan untuk kaum  muda  dari berbagai  belahan  bumi untuk mengubah dunia. (RO/A-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Maulana
Berita Lainnya