Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

BKPM Turunkan Target Nilai Investasi

DESPIAN NURHIDAYAT
17/7/2020 05:55
BKPM Turunkan Target Nilai Investasi
KEPALA Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia(MI/RAMDANI)

KEPALA Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengaku terpaksa menurunkan target realisasi investasi tahun 2020 jadi sebesar Rp817,2 triliun. Langkah itu diambil lantaran perkembangan kasus covid-19 yang belum juga turun hingga Juli ini.

"Saya katakan bahwa Rp886 triliun itu target kita tahun 2020 sebelum adanya covid-19. Lalu, kita buat simulasi di Mei, targetnya turun jadi Rp855 triliun. Namun, karena sampai Juli ini belum ada tanda-tanda covid-19 akan berakhir, kita tentukan jadi Rp817,2 triliun," ungkapnya dalam konferensi pers secara virtual, kemarin.

Sejatinya, realisasi investasi di Tanah Air sempat melampaui target pada 2019. Dari target yang ditetapkan sebesar Rp792 triliun, realisasi di akhir tahun mencapai Rp809,7 triliun, alias melonjak Rp17 triliun.

"Di 2020 kami diberi target oleh Bappenas Rp886 triliun. Namun, di situasi covid-19 ini, sekali lagi penting untuk dilakukan peninjauan lagi," sambung Bahlil. Ia memaparkan, pada triwulan I 2020, realisasi investasi yang didapatkan sudah mencapai Rp210,7 triliun yang terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp112,7 triliun dan penanaman modal asing (PMA) Rp98 triliun.

Dari nilai investasi sebesar itu, tercipta lapangan kerja hingga 303.085 orang. Poin yang cukup menggembirakan di tahun ini, sambungnya, pemerintah berhasil menyeimbangkan sebaran investasi antara pulau Jawa dan luar Jawa. Jawa memperoleh investasi 51,4%, sementara luar Jawa 48,6%.

"Dalam enam tahun terakhir, baru kali ini Indonesia mendapat hasil realisasi investasi antara pulau Jawa dan luar Jawa yang hampir berimbang. Kita lihat, salah satu daerah yang selama ini tidak menjadi tujuan investasi, seperti Sulawesi Tenggara, saat ini masuk lima besar di luar Pulau Jawa. Kemudian, ada Maluku Utara yang juga diminati," paparnya. Setidaknya ada lima negara yang masih mendominasi investasi asing, yakni Singapura, Tiongkok, Hong Kong, Jepang, dan Malaysia.

Usaha mikro

Di kesempatan berbeda, dalam diskusi Lembaga Management FEB UI: Catatan dari IMD Partner-Peringkat Daya Saing Indonesia 2020, mengemuka pemikiran perlunya pemerintah fokus pada usaha mikro yang saat ini kinerjanya terus turun akibat pandemi covid-19.

Hal itu yang membuat peringkat daya saing Indonesia turun di tingkat dunia, dari posisi 32 di tahun lalu jadi 40 di tahun ini.

"Sektor UKM perlu mendapat perhatian karena efi siensi bisnis dan teknologi infrastrukturnya masih tergolong rendah, di peringkat 53 dari 63 negara," kata Koordinator Riset Institute for Management Development (IMD) World Competitiveness Yearbook (WCY) 2020 Willem Makaliwe dalam diskusi tersebut.

Selain itu, daya saing Indonesia juga turun karena kinerja ekspor yang rendah. Dalam hal kinerja ekspor, Indonesia ada di peringkat 58. Padahal, pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi masih bagus di saat negara-negara tetangga sudah menurun akibat ketergantungan dengan Tiongkok.

Pertengahan Juni lalu, IMD World Competitiveness Ranking 2020 merilis posisi daya saing Indonesia yang turun 8 peringkat, dari posisi 32 menjadi 40. Dari pemeringkatan daya saing itu, sebut lembaga itu, dapat dilihat negara mana saja yang dapat menangani pandemi covid-19 sehingga mampu mempertahankan daya saing mereka. (Iam/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya