Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo mengaku takut pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal ketiga akan semakin anjlok jika para menteri tidak kunjung bekerja dengan luar biasa.
Sebagaimana diketahui, pada kuartal pertama tahun ini, perekonomian dalam negeri hanya tumbuh 2,97% dari yang biasanya berada di kisaran 5%.
Baca juga: Pengembangan Food Estate Hadirkan Antusiasme Petani Kapuas
Untuk kuartal kedua, meskipun angka resmi belum keluar, jika melihat data dan laporan di lapangan, diyakini pertumbuhan ekonomi akan turun lebih tajam.
"Kelihatan sekali ada penurunan demand, ada penurunan supply, ada penurunan produksi. Terganggu dan rusak semua. Dari demand, supply, production semua terganggu dan rusak," ujar Jokowi saat memimpin rapat terbatas, Selasa (7/7). Pertanyaan Jokowi diunggah melalui akun Youtube Sekretariat Presiden seperti dikutip Kamis (9/7).
Oleh karena itu, ia meminta seluruh menteri melakukan percepatan kinerja, memangkas regulasi-regulasi yang menghambat.
Manajemen krisis harus dijalankan demi memperbaiki kondisi di Tanah Air baik dari segi kesehatan dan ekonomi.
"Kalau tidak, ngeri saya. Terus terang saya ngeri. Bukan hal yang biasa, ini mengerikan. Kepala negara yang saya telpon, hampir semua mengatakan hal yang sama. Dari waktu ke waktu prediksi ekonomi dunia juga tidak semakin baik, semakin buruk," tuturnya.
Dalam tiga bulan terakhir, Jokowi melihat kinerja kementerian dan lembaga negara masih belum maksimal.
"Tiga bulan lalu kita menyampaikan bekerja dari rumah, work from home. Tapi yang saya lihat ini malah kaya cuti. Padahal sedang kondisi krisis. Kita harusnya kerja lebih keras lagi. Jangan kerja biasa-biasa saja. Kerja lebih keras, dan kerja lebih cepat. Itu yang saya inginkan pada saat kondisi seperti ini," tegas mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Perbaikan kinerja baru terlihat setelah kepala negara memberikan teguran keras dalam sidang kabinet paripurna beberapa waktu lalu.
"Setelah rapat kabinet di sini ada pergerakan yang lumayan. Tapi belum sesuai dengan yang saya harapkan. Sudah bergerak lebih baik, tapi belum maksimal," ucapnya.
Belanja-belanja kementerian masih harus digenjot lebih kuat lagi di kuartal ketiga.
"Karena memang kuncinya di kuartal ketiga ini. Begitu kuartal ketiga bisa mengangkat, kuartal akan keempat lebih mudah. Tahun depan insya allah juga akan lebih mudah," sambung kepala negara.
Di periode sulit seperti sekarang, negara hanya bisa berharap pada belanja pemerintah untuk menjadi penggerak utama perekonomian.
"Saya minta semua dipercepat, terutama yang anggarannya besar-besar. Ini Kemendikbud ada Rp70,7 triliun, Kemensos Rp104,4 triliun, Kemenhan Rp117,9 triliun, Polri Rp92,6 triliun, Kementerian Perhubungan Rp32,7 triliun," kata Presiden.
Lebih jauh, kepala negara meminta belanja pemerintah harus mengutamakan produk-produk asli dalam negeri sehingga perputaran uang akan terasa lebih kencang.
Baca juga: Sinergi Bea Cukai dan TNI AL, Perkuat Penegakan Hukum di Laut
Misalnya, ia mencontohkan, Kementerian Pertahanan bisa membeli keperluan alutsista di perusahaan-perusahaan nasional seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan PT PAL.
"Semua APBN untuk beli produk dalam negeri. Belanja-belanja ke luar direm dulu. Beli, belanja, ya produk-produk kita. Agar apa? Ekonomi kena trigger, bisa memacu pertumbuhan ekonomi kita. Saya kira Pak Menhan juga lebih tahu mengenai ini," imbuh mantan wali kota Solo itu. (OL-6)
Hal itu karena asumsi nilai tukar dalam APBN berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS, sementara saat ini rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Sebagaimana diketahui, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi diketahui masih cukup tinggi.
Senator asal Bengkulu ini menyoroti angka inflasi tahunan per Februari 2026 yang menyentuh 4,76 persen sebagai sinyal waspada bagi ketahanan ekonomi.
Prabowo menyebut Danantara menunjukkan kinerja yang sangat kuat dalam satu tahun terakhir dengan capaianĀ return on assetsĀ (ROA) lebih dari 300%.
Lili mengatakan publik berharap pertemuan para menteri tersebut tidak sekadar menjadi forum koordinasi.
Puan memperingatkan pemerintah agar ketegangan di Timur Tengah tidak menjadi alasan pembiaran atas lonjakan biaya transportasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved