Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Pandemi Akselerasi Digitalisasi

Dero Iqbal Mahendra
22/6/2020 00:10
Pandemi Akselerasi Digitalisasi
(Ilustrasi)

PANDEMI covid-19 selama tiga bulan terakhir ini telah menggeser pola kebiasaan konsumen dan bisnis. Secara tidak langsung situasi saat ini menjadi akselerator terhadap digitalisasi serta teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di Indonesia.

“Konsumen mengalami perubahan lantaran lebih banyak di rumah sehingga pemenuhan kebutuhannya dilakukan melalui online. Shifting digitalisasi juga terjadi di bisnis yang berusaha menyesuaikan diri dengan situasi, khususnya pada bisnis offline,” kata Principal Consultant Artemis Hiro Whardana dalam diskusi webinar, Jumat (19/6).

Menurut dia, startup bidang kesehatan dan pendidikan yang sebelumnya hanya layanan tambahan kini berubah menjadi kebutuhan utama. Begitu juga berbagai usaha luring (offline) yang berupaya menyesuaikan dengan konsumen saat ini dengan men dorong digitalisasi. 
Misalnya, supermarket Tiptop yang mendorong penjualan daring (online) lewat aplikasi Whatsapp, serta PD Pasar Jaya yang memudahkan berbelanja kebutuhan sayur dan lainnya. Hiro menilai banyak hal yang dirasakan langsung oleh konsumen selama kondisi pandemi covid-19 dan bertahan bahkan setelah pandemi berakhir. Misalnya saja untuk sektor kesehatan dan groceries.

“Ada banyak kemudahan yang dirasakan masyarakat dari belanja kebutuhan dapur via online karena tidak ribet, belanjaan diantar ke rumah, dan hal lainnya. Ini bisa menjadi kebiasaan baru nantinya,” ungkap Hiro.

Begitu juga sektor kesehatan, pemanfaatan teknologi digital seperti telemedicine dapat bertahan dan menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat. CEO Halodoc Jonathan Sudharta membenarkan antusiasme masyarakat atas layanan telemedicine. Pihaknya pun mengalami peningkatan tinggi selama pandemi, yakni kenaikan transaksi hingga 700% serta pendapatan tumbuh sekitar 30 kali lipat.

CEO Tanihub Group Ivan Arie Sustiawan juga menyebut ada pergeseran (shifting) pola bisnis dari penjualan business to business (B to B) menjadi business to consumer (B to C).

“Ya, penjualan ke pelaku bisnis turun, tetapi penjualan langsung ke konsumen naik. Kenaikan B to C di luar bayangan kami sebelumnya, ini anomali. Tapi kami tidak kaget,” terang Ivan.

Ia pun menilai pada akhirnya klien B to B mereka akan kembali ketika situasi normal dan mungkin akan meluas mengingat situasi pandemi yang akan merangsang masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat covid-19 untuk memu lai bisnis.


Investasi ICT

Dampak lain dari pandemi selain pada peningkatan digitalisasi ialah peningkatan kebutuhan terhadap ICT, khususnya bagi sektor bisnis agar dapat menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini. “Investasi ICT, kami prediksi, meningkat. Dengan shifting dari offline ke online, dampaknya ialah spending khususnya di sektor teknologi akan naik,” tutur SVP Pre-sales Lintasarta Gidion Suranta Barus.

Menurutnya, ada empat komponen yang pembelanjaannya bakal naik, yakni jaringan, infrastruktur TI, aplikasi, dan layanan keamanan siber. Ia pun menilai kondisi itu mendorong bertambahnya perusahaan teknologi, terutama pemain baru. Bahkan dengan akselerasi transformasi digital di Indonesia, pemain luar negeri bakal melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat menarik untuk dijajaki. (S-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya