Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH memiliki target investasi pada 2020 sebesar Rp886,1 triliun. Angka tersebut lebih tinggi daripada angka yang ditetapkan tahun lalu, yakni sebesar Rp792 triliun. Adapun realisasi investasi triwulan pertama 2020 dilaporkan telah mencapai 23,8% dari target sepanjang tahun ini.
Angka tersebut diprediksi akan terus meningkat jika pandemi korona atau covid-19 berakhir pada Mei 2020. Karena itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan optimistis bahwa realisasi investasi di 2020 akan melampaui target, sekalipun gempuran virus korona terus menerpa.
“Di balik covid-19, jangan terlalu pesimistis berlebihan. Kita doa kan saja korona ini berjalan cepat,” ujar Bahlil saat konferensi pers virtual, kemarin. Bahlil menambahkan, BKPM sejauh ini belum merevisi target investasi. Rencananya, BKPM baru akan merevisi target investasi jika pandemi korona masih mewabah di dalam negeri hingga pertengahan 2020.
“Kalau pada Mei, pandemi ini belum selesai dan ‘geser’ (selesai) Juni, Juli bahkan realisasi Rp817 triliun perlu kita lakukan koreksi,” terang Bahlil.
Hingga saat ini, menurut Bahlil, realisasi investasi masih berjalan baik. Berdasarkan data BKPM reali sasi investasi pada triwulan I 2020 BKPM mencatat ada kenaikan 8% secara tahunan dari Rp195,1 triliun menjadi Rp210,7 triliun (lihat grafis).
Dalam perspektif berbeda, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu menuturkan, pertumbuhan angka investasi pada kuartal pertama tidak dapat menjamin atau menolong geliat perekonomian dalam negeri di tengah pandemi covid-19.
Penurunan impor
Di Denpasar, Bali, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali,Trisno Nugroho mengatakan, berlangsungnya pandemi covid-19 di Bali berdampak pada beberapa aspek ekonomi dan transaksi keuangan. “Defisit transaksi berjalan triwulan lebih rendah daripada 1,5% produk domestik bruto (PDB),” ujar Trisno di Denpasar, kemarin.
Hal tersebut didukung tiga faktor. Pertama, neraca perdagangan yang membaik. Covid-19 disebut berdampak pada penurunan ekspor akibat melambatnya permintaan dunia. Namun, penurunan impor juga besar karena aktivitas produksi dalam negeri juga menurun.
Kedua, defisit neraca jasa juga diperkirakan lebih rendah, didorong penurunan devisa untuk biaya transportasi impor. Impor menurun cukup tajam dan berdampak pada kebutuhan untuk freight and insurance yang juga menurun.
Ketiga, penerimaan devisa pariwisata jauh lebih rendah daripada perkiraan sebelumnya. Namun, terdapat pula pembatasan bepergian ke luar negeri termasuk umroh, sehingga mengurangi penggunaan devisa dari wisatawan Nusantara yang tidak jadi keluar negeri. (Des/OL/X-6)
Menurutnya, angka investasi yang dihasilkan pada kuartal pertama merupakan hasil dari realisasi komitmen investasi ke Indonesia yang telah dilakukan jauh sebelum pandemi menjangkiti Tanah Air.
“Itu jelas bukan indikasi yang menolong, karena datanya kita akan lihat nanti. Investasi itu banyak yang telah direncanakan beberapa bulan atau tahun sebelumnya,” tuturnya melalui video conference, kemarin.
Dari kacamata bendahara negara, dampak pandemi pada perekonomian nasional akan amat terasa di kuartal II dan III. Hal itu, yang menurut dia, perlu dipikirkan pengambil kebijakan dalam mengatasinya, karena tren yang terlihat diprediksi akan mengarah pada posisi yang negatif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved