Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Keuangan Sri Mulyani optimistis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,3% tahun ini. Target tersebut bisa dicapai, kata dia, jika investasi dan konsumsi tetap terjaga dengan baik.
“Saya rasa itu akan cukup bisa untuk menjaga di semester kedua. Kita terus melakukan kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong investasi dan menjaga kepercayaan dari masyarakat,” ujarnya saat ditemui di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (8/5).
Menurut Menkeu, untuk belanja sosial yang dilakukan pemerintah di kuartal I 2019 bagi kelompok masyarakat bawah sudah meningkat cukup bagus. Adapun untuk konsumsi bagi kelompok menengah, pihaknya berharap itu bisa digenjot di kuartal II 2019.
“Untuk kelompok menengah kita masih bisa berharap meningkat di kuartal II. Ini adanya musiman seperti Ramadan dan hari raya,” ujarnya.
Begitu pula dengan investasi, ia berharap itu bisa meningkat seusai Pemilu 2019 yang digelar 17 April lalu. Apalagi, sambungnya, ada kepastian politik dan kebijakan yang akan dilakukan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi.
“Presiden (Joko Widodo) sudah minta agar situasi investasi di Indonesia bisa diperbaiki,” katanya.
Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2019 sebesar 5,07%. Angka itu naik tipis dari 5,06% di periode yang sama 2018. Menkeu berharap kondisi ekonomi global tetap kondusif di semester kedua nanti meskipun terjadi pelemahan ekonomi dunia.
Apalagi, saat ini mulai muncul reaksi atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai perang dagang dengan Tiongkok.
Makin waspada
Saat ini, Sri Mulyani menyampaikan pihaknya tengah mencermati bagaimana perkembangan hal tersebut di pekan ini, apakah AS akan menaikkan tarif barang-barang dari Tiongkok. Jika penaikan tarif tersebut dilakukan, menurutnya, itu akan membuat ekonomi Tiongkok bahkan negara lainnya juga turut terpengaruh.
“Jadi kita harus semakin waspada. Di satu sisi, perekonomian AS cukup positif, di sisi lain pelemahan yang terjadi di bagian dunia lain masih terlihat. Jadi, kita akan lihat untuk ekspornya, mungkin kita juga harus hati-hati. Kemarin, walau kontraksi sudah mulai kecil, kita melihat masih ada kontraksi di ekspor,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Analis Valbury Sekuritas Indonesia Alfiansyah menyatakan ketegangan perang dagang antara AS dan Tiongkok telah memengaruhi pergerakan indek harga saham gabungan (IHSG) Rabu (8/5).
Hal itu, kata dia, juga berkaitan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif terhadap produk Tiongkok menjadi US$200 miliar mulai Jumat (10/5) mendatang.
“Pelaku pasar kembali akan dihadapkan pada kondisi dari eksternal yang diliputi ketidakpastian global, terutama pertemuan AS dan Tiongkok dalam pekan ini,” kata Alfiansyah dalam riset yang dirilis kemarin.
Dia menyatakan jelang pertemuan kedua negara itu, saham AS pada perdagangan Selasa (7/5) juga terkoreksi tajam. (Ata/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved