Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

BI Siapkan Panduan Atasi Ketidakpastian

Andhika Prasetyo
04/5/2019 04:00
BI Siapkan Panduan Atasi Ketidakpastian
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

BANK Indonesia (BI) meluncurkan buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) Nomor 32 mengenai analisis kebijakan stabilitas keuangan sepanjang 2018 dan keterkaitannya dengan makroekonomi, kondisi global serta perkembangan di korporasi dalam negeri.

Gubernur BI Perry Warjiyo berharap penerbitan buku itu bisa dijadikan pedoman ke depan dalam menyikapi ketidakpastian perekonomian global sehingga kondisi moneter dan sistem keuangan Indonesia tetap terjaga.
Perry menyampaikan pada 2018 situasi dunia cenderung tidak menentu dan membuat bank sentral harus mengambil langkah cepat, tepat serta penuh kehati-hatian.

Seperti ketika Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan sehingga berpotensi membuat dana asing berbondong-bondong keluar dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

“Kondisi itu membuat BI harus merespons dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 175 basis points (bps) sepanjang 2018. Tujuannya menarik kembali modal asing ke dalam negeri (capital inflow), sehingga menstabilkan nilai tukar rupiah yang melemah akibat penguatan dolar AS seusai The Fed menaikkan Fed Funds Rate,” ujar Perry, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (3/5).

Anehnya, kata dia, kenaikan suku bunga acuan BI ternyata tidak terlalu berdampak pada kenaikan suku bunga kredit seperti dikhawatirkan banyak pihak selama ini. “Hal itu dapat terjadi karena BI telah menggunakan berbagai instrumen kebijakan untuk memitigasi risiko-risiko yang berpotensi muncul dalam sistem keuangan,” kata Perry.

Namun, Perry mengingatkan ketidakpastian seperti itu diprediksi masih akan terus terjadi sehingga bank sentral memiliki kewajiban memberikan pedoman bagi masyarakat untuk memahami kondisi di dunia, seperti yang tertuang dalam buku KSK Nomor 32 tersebut.

Perry juga berkomitmen terus berkoordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk terus menjaga sistem keuangan di Tanah Air tetap stabil.

“BI optimistis stabilitas sistem keuangan di Indonesia tetap terjaga. Pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga perbankan diperkirakan dalam kisaran 10-12% (yoy) dan 8-10% (yoy),” pungkas Perry.

Perlu diwaspadai
Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto mengatakan buku KSK Nomor 32 mengusung tema Penguatan intermediasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ada tiga aspek penyempurnaan pada buku itu ketimbang edisi sebelumnya, yaitu penguatan analisis makro financial linkage berupa hubungan sektor keuangan domestik dengan kondisi makro global dan domestik, pe­ngayaan dimensi analisis melalui penggabungan analisis time series (prosiklikalitas) dengan cross section (keterkaitan antarelemen dalam sektor keuangan), dan penekanan pada penyajian analitikal dibandingkan dengan pemaparan perkembangan sistem keuangan.

Dia juga menyatakan ke depan sejumlah tantangan internal dan ekster­nal yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan domestik perlu diwaspadai.

Pertama, terkait prospek pertumbuhan ekonomi yang masih melambat. Kedua, permasalahan global yang semakin kompleks. Tantangan berikutnya terkait risiko ketidakpastian yang meliputi pasar keuangan global. “Dari sisi domestik, perekonomian di Tanah Air dihadapkan pada tataran stabilitas sistem keuangan berupa terjadinya lingkaran setan terkait ketersediaan pembiayaan, produktivitas yang rendah, dan perekonomian yang lemah,” tutup Erwin. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya