Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

BEI Minta Penjelasan Terkait Laba Garuda

Nur Aivanni
30/4/2019 02:00
BEI Minta Penjelasan Terkait Laba Garuda
Pekerja melintasi layar monitor bursa saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta( ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

BURSA Efek Indonesia (BEI) hari ini akan meminta ­klarifikasi tentang kisruh laporan keuangan PT Garuda Indonesia (persero) Tbk

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan pihak manajemen Garuda Indonesia bersama dengan auditornya akan ­datang ke BEI untuk menjelaskan perkara ­tersebut.

BEI, kata Nyoman, bakal mempertanyakan transaksi kerja sama antara Garuda Indonesia dan PT Mahata Aero Teknologi. Pasalnya, kerja sama yang masih piutang itu dimasukkan sebagai pendapatan perseroan dalam laporan keuangan 2018.  

“Concern-nya, kami akan melihat nature transaksinya seperti apa. Dalam artian kontraknya seperti apa, karena kalau dalam catatan laporan keuangan kami tidak sampai detail melihat perjanjiannya. Yang perlu kami tahu ialah nature-nya, dasarnya apa,” jelasnya, Senin (29/4).

Bursa, jelas Nyoman, juga meminta manajemen Garuda Indonesia untuk membawa dokumen kontrak kerja sama dengan Mahata. Dokumen kerja sama itu akan disesuaikan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

“Kami harapkan besok (hari ini) mereka akan membawa kontrak atau perjanjiannya sehingga kami bisa tahu ini background-nya apa, nature transaksinya apa, sehingga baru kami bisa hubungkan bagaimana pencatatan atau recognation atas revenue itu sesuai dengan PSAK-nya,” ungkap dia.

Menurut Nyoman, secara akrual, ­piutang boleh dimasukkan ke ­pendapatan. “Itu kan hal yang umum karena memang ada prinsip untuk akrual. Hanya kan ­nature transaksinya yang perlu diperoleh,” tutur Nyoman.

Bursa sebelumnya telah mempelajari laporan keuangan Garuda Indonesia di 2018. Tahun lalu, Garuda Indonesia mencatat laba bersih sebanyak US$809,85 ribu. Laba tersebut akhirnya terbentuk karena meningkatnya pendapatan usaha lainnya yang mencapai US$306,88 juta.

Perlu penjelasan
Pada saat rapat umum pemegang saham (RUPS), dua komisaris maskapai pelat merah tersebut keberatan atas pengakuan laporan keuangan tersebut. Dalam laporan keuangan Garuda ­Indonesia terdapat pengakuan pendapatan atas transaksi perjanjian kerja sama penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia.

Menurut mereka, pengakuan tersebut tidak sesuai dengan kaidah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 23. Manajemen dan pemegang saham tertinggi Garuda Indonesia meng-akui pendapatan dari PT Mahata Aero Teknologi sebesar US$239,9 juta, dengan sebanyak US$28 juta merupakan bagi hasil yang didapatkan dari Sriwijaya Air. Padahal, uang itu masih dalam bentuk piutang.

Pengamat ekonomi Fithra Faisal menduga telah terjadi kesalahpahaman antara pihak komisaris dan direksi.

“Pertama mungkin ini ada mispersepsi antara pihak komisaris dan juga direksi. Yang jelas untuk bisa menyelesaikan ini mereka harus menjelaskan ke publik tentang apa yang sebenarnya terjadi,” kata Fithra. (*/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya