Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai Rp73,28 truliun pascapemilu hingga 25 April 2019.
Angka tersebut meningkat secara signifikan dibanding dengan nilai modal asing yang masuk ke Indonesia dari Januari hingga 6 Maret 2019 yang hanya mencapai Rp59,9 triliun.
Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, dana tersebut berasal dari pembelian Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp58,38 triliun dan dari portofolio saham sebesar Rp14,90 triliun. “Ini adalah realisasi yang sudah masuk, termasuk angka-angka setelah pemilu. Termasuk angka-angka di 18 April maupun 22 April 2019,” kata Perry, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (25/4).
Perry beranggapan, derasnya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia akan terus berlangsung. Pasalnya, dari sisi domestik, Perry fundamen ekonomi Indonesia terus membaik. Hal itu dapat dilihat dari tren pertumbuhan ekonomi yang berada di atas 5%. Di sisi lain, inflasi juga terjaga di angka 3,5%.
Selain itu, dari faktor eksternal Perry menyatakan The Fed (bank sentral AS) yang diprediksi tidak akan menaikkan suku bunga, akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. “Perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri itu tetap tinggi. Bahkan akan lebih tinggi. Karena semula Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan naik minimal satu atau dua kali, kini diperkirakan tidak naik sampai 2020,” tutur Perry.
Untuk itu, dengan kondisi eksternal dan domestik yang positif, Perry optimistis aliran modal asing yang masuk ke Indonesia akan semakin deras. “Maka dengan FFR yang tidak naik investasi portfolio di SBN itu akan semakin menarik,” tukasnya.
Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dilaksanakan pada 24-25 April 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. “Keputusan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomian Indonesia,” kata Perry.
Dia menuturkan, untuk mendorong permintaan domestik, BI membuat sejumlah kebijakan yang lebih akomodatif. Antara lain meningkatkan ketersediaan likuiditas dan mendukung pendalaman pasar keuangan melalui penguatan strategi operasi moneter (lengkapnya lihat grafik).
Selanjutnya, BI akan terus mempererat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna mempertahankan stabilitas ekonomi, khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan.
Pelonggaran moneter
Kepala Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Febrio Kacaribu menilai kebijakan BI yang tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di angka 6%, sudah diprediksi sebelumnya.
Sebab, kata Febrio, di tengah kondisi global yang tak menentu, perekonomiam domestik masih cukup baik. Hal itu ditandai dengan inflasi yang turun di bawah batas bawah koridor BI yakni 2,5%.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia dalam dua bulan terakhir secara signifikan telah memperbaiki kinerja transaksi berjalan di Triwulan I 2019. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved