Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Pelita Air bakal Perkuat Bisnis Kargo

Satria Sakti Utama
23/4/2019 04:45
Pelita Air bakal Perkuat Bisnis Kargo
Peswat Pelita Air(Dok MI)

PEMERINTAH berencana membentuk holding penerbangan. Salah satu anggota holding ini ialah PT Pelita Air Service (PT PAS) atau Pelita Air yang merupakan anak usaha PT Pertamina (persero).

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo mengatakan dalam holding ini Pelita Air akan bergabung bersama PT Angkasa Pura I (persero), PT Angkasa Pura II (persero), dan PT Garuda Indonesia Tbk (persero).

Menurut Gatot, nantinya Pe-lita akan masuk sebagai penyedia pesawat carter dan kargo, yang bisnisnya nanti akan sejalan dengan bisnis Garuda Indonesia, Angkasa Pura I, dan Angkasa Pura II.

“Ada Pelita masuk, tapi karena Pelita milik Pertamina, jadi fokus secara generik ­Pelita sebagai carter flight dan kargo,” kata Gatot di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin.

Dalam rangka pembentuk­an holding ini, kata Gatot, PT Pertamina akan membeli pesawat jenis Airbus A400 untuk memperkuat bisnis kargo anak usahanya itu (Pelita Air Service atau Pelita Air).

Gatot mengatakan salah satu alasan pembelian itu ialah demi memudahkan program BBM satu harga ke daerah-daerah yang sulit terjangkau atau daerah 3T (terdepan, ter­tinggal, terluar). Pertamina bersama konsorsium akan membeli pesawat Airbus A400.

Sejauh ini, untuk menya-lurkan BBM satu harga, Pertamina menggunakan moda transportasi udara, yakni dengan pesawat Pelita Air. “Ke depan insya Allah Pertamina akan membeli pesawat Airbus A400 yang akan ditaruh di situ (Pelita Air),” kata Gatot.

Meski telah bersinergi dengan PT Pelayaran Nasional Indonesia (persero) atau Pelni, Gatot menambahkan, peng-angkutan kargo belum optimal. “Sekarang sudah sinergi dengan Pelni dan sebagainya, nanti ke depan yang besar-besar bisa pakai kargo.”

Menurut Gatot, penggunaan Airbus A400 sebenarnya telah dilakukan saat bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, tahun lalu. Ketika itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno meminjam Airbus A400 dari Hong Kong sehingga misi penyelamatan dan pemulihan Kota Palu dan sekitarnya bisa dilakukan dengan cepat.

Gatot tak mau bicara gam-blang soal jumlah Airbus yang akan dipesan Pertamina. Ia hanya menyebutkan, saat ini Pertamina telah memesan pesawat itu. “Tapi mungkin dapatnya tahun ini atau tahun depan. Yang penting bisnis kargonya di Pelita Air Service.”

Kondisi geografis
Seperti diketahui, Kementerian BUMN telah menunjuk PT Survai Udara Penas (persero) sebagai induk holding penerbangan membawahkan PT Angkasa Pura I dan II, dan PT Garuda Indonesia Tbk. Sejauh ini pembentukan holding penerbangan tengah dalam kajian lintas kementerian, termasuk dengan Kemenhub.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan alasan pembentukan penerbangan karena kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Transportasi udara dinilai sebagai transportasi utama untuk menghubungkan gugusan pulau di Indonesia. “Negara ini adalah negara kepulauan, artinya dibutuhkan banyak transportasi udara,” ujar dia.

Di sisi lain, menurutnya, untuk mengoptimalkan industri transportasi udara juga perlu sinergi antara maskapai penerbangan dan pengelola bandara. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya