Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pertumbuhan Ekonomi Mulai Berdampak

Satria Sakti Utama
15/4/2019 02:30
Pertumbuhan Ekonomi Mulai Berdampak
Pemerintah terus berupaya menekan angka kemiskinan di Indonesia melalui sejumlah strategi(ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)

KEPALA Pusat Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Mohamad Dian Revindo mengatakan perekonomian Indonesia tidak semata terus bertumbuh, tetapi juga mulai merata.

Dia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat mencapai titik terendah ke 4,79% pada 2015, dan secara perlahan kembali me-rangkak naik ke 5,02% (2016), 5,07% (2017), dan 5,17% pada 2018.

“Artinya, meskipun masih di bawah target pemerintah yang 7%, perekonomian kita perlahan-lahan kembali bangkit, menguat, dan stabil,” kata Revindo di Jakarta, akhir pekan Minggu (14/4).

Bagi Revindo, melihat kemajuan perekonomian tidak cukup dari tinggi rendahnya angka pertumbuhan.

“Kita juga perlu melihat bagaimana pertumbuhan itu dinikmati rakyat. Yang paling mudah ialah dengan melihat dampak dari pertumbuhan terhadap ketimpangan yang umumnya diukur dengan koefisien Gini,” ujarnya.

Koefisien Gini besarnya dari 0 (sangat merata) hingga 1 (sangat tidak merata). Suatu negara dikatakan mengkhawatirkan ketimpangannya jika koefisien gininya di atas 0,4. Sebelum 2011, koefisien gini Indonesia di bawah 0,4 yang berarti peme-rataan cukup baik.

Sejak 2012 hingga 2015 terjadi peningkatan ketimpangan koefisien gini ke kisaran 0,41. Pada 2016, ketimpangan kembali membaik, koefisien gini turun ke 0,4 lalu pada 2017 dan 2018 semakin membaik dengan kembali turun ke kisaran 0,39.

“Artinya, pertumbuhan ekonomi yang pada kisaran 5% ini ternyata punya dampak yang cukup baik pada pemerataan pendapatan,” tandas doktor ilmu ekonomi lulusan Lincoln University, Selandia Baru, itu.

Patut diapresiasi
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi juga mampu menciptakan kesempatan kerja dan mengurangi kemiskinan. Pengangguran terbuka, kata Rivaldo, perlahan turun hingga tinggal 5,34% atau sekitar 7 juta jiwa di 2018 (lihat grafik). Angka ­kemiskinan juga perlahan turun dan tinggal 9,66% dari ­populasi di 2018.

Dia yakin kecenderungan yang baik ini akan berlanjut di masa depan sebab pemerintah saat ini fokus pada pembangunan infrastruktur yang berarti memperbesar kapasitas produksi.

“Jangan lupa, infrastruktur yang dibangun tidak hanya jalan tol, tetapi juga infrastruktur energi, air, dan transportasi nontol,” tukasnya.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan apa yang dicapai pemerintah dalam menurunkan angka kemiskinan, mengurangi pengaggur-an, dan memangkas ketimpangan patut diapresiasi.

Namun, dia menilai pemerintah seharusnya dapat menekan angka-angka tersebut lebih mengecil lagi. Sebagai contoh, angka kemiskinan per September 2018 lalu tercatat pada kisaran 9,66% dari jumlah penduduk Indonesia atau setara 25,67 juta jiwa.

Angka itu, disebut Bhima, dapat dipangkas lagi menjadi 7%-8% meskipun membutuhkan usaha yang sulit. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya