Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pengurangan Ekspor Karet untuk Mendongkrak Harga

Andhika Prasetyo
02/4/2019 02:45
Pengurangan Ekspor Karet untuk Mendongkrak Harga
Petani mengumpulkan getah karet hasil panen di perkebunan Bathin II Babeko, Bungo, Jambi(ANTARA FOTO/Wahdi )

GUNA menstabilkan harga karet mentah dunia, sejumlah negara penghasil komoditas itu sepakat mengurangi volume ekspor mereka. Indonesia, bersama Thailand dan Malaysia, termasuk negara yang menyepakati kebijakan ­tersebut.

Senin (1/4), pemerintah Indonesia resmi memangkas 98.160 ton ekspor karet mentah. Langkah itu, menurut Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri, dilakukan sebagai implementasi kebijakan agreed export tonnage scheme (AETS) ke-6 yang bertujuan  memperbaiki harga karet alam dunia yang kini berada di level rendah.

Dalam kebijakan AETS ke-6, tiga negara termasuk Malaysia dan Thailand selaku produsen dan eksportir karet terbesar dunia menyepakati pengurangan volu-me ekspor karet alam. Malaysia sepakat membatasi ekspor ­sebesar 15.600 ton, dan pengurangan yang dilakukan Thailand mencapai 126.240 ton. Dengan begitu, secara akumulasi, ketiga negara memangkas ekspor karet alam sebanyak 240.000 ton dan itu dilakukan selama empat bulan ke depan.

Kesepakatan itu ialah hasil dari pertemuan khusus pejabat senior International Tripartite Rubber Council (ITRC) pada 4-5 Maret 2019 di Bangkok, Thailand. Menurut Kasan, seperti keputusan-keputusan penerapan AETS sebelumnya, kesepakatan kali ini ialah langkah bersama negara-negara produsen karet alam untuk mendongkrak harga, terutama agar harga berge-rak ke tingkat yang lebih menguntungkan petani.

Ia mengungkapkan harga karet sempat merosot hingga menyentuh US$1,21 per kilogram pada November 2018. Namun, ketika rencana pemangkasan disuarakan pada Desember lalu, harga komoditas itu berangsur membaik dan ter-kerek hingga US$1,4 per kg.

“Per kilogram perbedaannya memang hanya 20 sen, tapi kalau kita ekspornya 3 juta ton, itu nilainya bisa triliunan rupiah. Jadi pengurangan ekspor bukan berarti mengurangi nilai ekspor,” jelasnya pada konferensi pers implementasi AETS ke-6 di Kantor Kemendag, ­Jakarta, :Senin (1/4).

Menurut Kasan, jika skema pemangkasan ekspor berhasil mengurangi pasokan di tingkat global dan membuat harga karet menjadi baik, nilai ekspor dipastikan tetap terjaga. “Pengurangan volume ekspor akan dikompensasi dengan kenaikan harga. Kita ekspor lebih sedikit, tapi dengan harga yang lebih bagus,” ujar dia.

Gapkindo mendukung
Di Indonesia, keputusan pemangkasan ekspor karet alam dituangkan dalam Keputusan Menteri Perdagangan No 779 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan AETS Ke-6 untuk Komoditas Karet Alam. Saat dimintai tanggapan tentang hal itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menyatakan dukungan dan keseriusan Gapkindo agar AETS berjalan efektif demi memperbaiki harga karet.

“Kami sudah menginformasikan kebijakan pemerintah ini kepada seluruh anggota dan siap melaksanakan mandat yang diberikan kepada Gapkindo,” ujar Moenardji.

Untuk diketahui, sepanjang 2013-2017, nilai ekspor karet alam Indonesia ke dunia merosot 9,04%. Namun, secara volume, tidak ada penurunan signifikan yakni berada di kisaran 3 juta ton per tahun. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya