Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Data Pangan yang Akurat Penting untuk Pengambilan Kebijakan

Nur Aivanni
21/2/2019 17:43
Data Pangan yang Akurat Penting untuk Pengambilan Kebijakan
(KOMINFO ANTARA)

SEKRETARIS Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan data dan neraca pangan yang akurat dibutuhkan dalam pengambilan kebijakan. Pasalnya, kata dia, pengambilan kebijakan terkait pangan harus mempertimbangkan segala aspek baik dari sisi produsen maupun konsumen.

"Data dan neraca pangan ini sangat penting karena itu harus akurat betul untuk menjadi dasar keputusan kita dalam mengambil kebijakan," kata Susiwijono dalam sambutannya di diskusi pangan yang bertajuk data jagung yang bikin bingung, di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/2).

Baca juga: Pemerintah akan Bagikan Lahan kepada Pekerja Perkebunan

Ia pun mencontohkan saat pemerintah akan melakukan impor atau tidak terkait komoditas jagung. Pemerintah, kata dia, harus mempertimbangkan bagaimana dampak kebijakan tersebut baik kepada produsen maupun konsumen.

"Kalau keputusan mengakibatkan harga jagung yang tinggi, itu akan beratkan peternak kita (konsumen). Namun, kalau kebijakan kita mengakibatkan harga terlalu rendah, ini juga merugikan produsen jagung. Bagaimana menyeimbangkan kepentingan tadi? Itu butuh data dan neraca pangan kita yang akurat," terangnya.

Peneliti dari Visi Teliti Saksama Nanug Pratomo pun mengatakan bahwa memang penting penggunaan data dan neraca pangan yang akurat dalam pengambilan sebuah kebijakan. Langkah pemerintah yang akan menggunakan data pangan dari Badan Pusat Statistik (BPS), menurutnya, adalah langkah yang tepat. "Iya, kan yang resmi BPS. Kalau setiap pihak keluarkan data dampaknya ke kebijakan lagi," katanya.

Baca juga: Impor Komponen Elektronik Mencapai US$11 Miliar

Terkait produksi jagung, Nanug memprediksi itu akan kembali meningkat tahun ini. Hal itu sebagaimana tren peningkatan produksi jagung dari tahun ke tahun. Hanya saja, kata dia, pertanyaan yang muncul kemudian apakah peningkatan produksi tersebut bisa mengejar permintaan yang juga meningkat.

"Problemnya dari sisi kualitasnya apakah tren kenaikan produksi itu bisa mengejar tren kebutuhan juga? Kalau bisa mengejar apakah kualitasnya sesuai kebutuhan yang diminta konsumen, terutama industri pakan?" pungkasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya