Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis laporan hasil akhir jatuhnya pesawat Airasia QZ 8501 tujuan Surabaya-Singapura yang menewaskan 162 orang termasuk awak kabin pada 28 Desember 2014 lalu.
Kepala Sub Kecelakaan Udara KNKT Kapten Nurcahyo mengungkapkan, KNKT tidak menemukan tanda-tanda atau pengaruh cuaca yang menyebabkan terjadainya kecelakaan.
"KNKT tidak menemukan tanda-tanda pengaruh cuaca," kata Nurcahyo dalam jumpa pers di Kementerian Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Selasa (1/12).
Nurcahyo menegaskan, pesawat jatuh karena adanya retakan solder pada electronic Module di Rudder Travel Limited Unit (RTLU) sehingga menyebabkan hubungan berselang dan berakibat pada masalah yang berkelanjutan berulang.
Selain itu, pada tahun 2014 hasil investigasi terhadap catatan perawatan pesawat dalam 12 bulan terakhir menemukan adanya 23 kali gangguan yang terkait dengan sistem Rudder Travel Limiter di tahun 2014. Bahkan selang waktu antara kejadian menjadi lebih pendek dalam 3 bulan terakhir.
"Ini diawali oleh retakan solder pada electronic module pada Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) yang lokasinya berada pada vertical stabilizer," ungkap dia.
Nurcahyo menegaskan, sistem perawatan pesawat yang ada saat itu belum memanfaatkan Post Flight Report (PFR) secara optimal. Sehingga gangguan pada Rudder Travel Limiter (RTL) yang berulang tidak terselesaikan secara tuntas.
Pesawat AirAsia QZ 8501 jatuh di sekitaran Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dengan ketinggian 32.000 kaki di atas permukaan air iaut. Di dalam pesawat terdapat 162 orang yang terdiri dari dua pilot, empat awak kabin, dan 156 penumpang termasuk seorang engineer.(Q-1)