Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Di 2016, 10 Persoalan Krusial Harus Ekstra Diperhatian

Anastasia Arvirianty
26/11/2015 00:00
Di 2016, 10 Persoalan Krusial Harus Ekstra Diperhatian
(Dok MI)
Dalam menghadapi 2016 mendatang, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap 10 persoalan krusial jika ingin perekonomian negara kembali sehat.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati kepada media saat menyampaikan hasil temuan peneliti Indef mengenai outlook ekonomi di 2016, dalam acara Seminar Mengelola Ekspektasi, di Jakarta, Kamis (26/11).

Kesepuluh persoalan tersebut, jelas Enny, sebagian adalah tentang masih adanya potensi ketidakpastian ekonomi global, terutama terkait The Fed dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang diprediksi masih akan melambat di tahun depan.

"Ekonomi Tiongkok ini berpengaruh sekali terhadap harga komoditas, sehingga perlu adanya reorientasi pasar ekspor Indonesia, khususnya komoditas," terangnya.

Persoalan berikutnya, masih adanya kemungkinan terjadi lonjakan harga pangan dan stabilitas perekonomian yang semu, seperti penurunan angka inflasi (deflasi) pada dua bulan terakhir. Menurut Enny, hal itu merupakan perbaikan semu, karena deflasi berarti menunjukkan daya beli masyarakat sedang rendah.

Selain itu, yang perlu diperhatikan lagi adalah target pajak yang besar dan potensi menciptakan shortfall yabg juga besar. "Dengan target pajak sekarang dan waktu yang tinggal sebulan lagi akhir tahun, pajak per 4 November kemarin baru terpenuhi 53% saja. Pemerintah harus perhatikan ini."

"Berikutnya, yang tidak kalah penting, yaitu tentang efektivitas paket-paket kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah, karena sampai sekarang report, follow up, dan progresnya masih belum terlihat jelas," terangnya.

Di samping itu, hal lainnya yang menjadi persoalan adalah rendahnya daya beli masyarakat, menurunnya produktivitas nasional, potensi meningkatnya angka pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan, ketergantungan ekspor komoditas, tantangan MEA, dan tantangan liberalisasi ekonomi.

Menanggapi hal tersebut, pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengungkapkan keyakinan pihaknya akan perbaikan ekonomi Indonesia di tahun depan. Penyebabnya adalah, asumsi BI yang masih melihat ketidakpastian akan berakhir di 2015 seiring dengan kenaikan pertama suku bunga The Fed.

"Ekonomi Tiongkok memang kami prediksi 2016 masih melambat, namun akan menunjukkan perbaikan di semester kedua tahun depan," tutur Mirza.

Dia setuju, Indonesia harus perbaiki struktur perekonomiannya dan beralih dari komoditas. Menurutnya, sektor peralihan dengan potensi penghasil devisa terbesar adalah pariwisata, maka pemerintah mulai berlakukan kebijakan bebas visa.

Sehingga, dengan melihat faktor dan persoalan-persoalan tersebut, pada 2016 mendatang, Indef memprediksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5%, defisit transaksi berjalan sebesar 1,8% dari produk domestik bruto (PDB), dan inflasi berada di angka 5%.

Prediksi tersebut cukup sejalan dengan prediksi BI yang sebelumnya disampaikan oleh Gubernur BI Agus Martowardojo, yakni tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%-5,6%, inflasi 4% +/- 1%, dan defisit transaksi berjalan di bawah 3%.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya