Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
KETERBATASAN lahan adalah problem yang selalu dihadapi oleh setiap pengelola pelabuhan di seluruh dunia. Di situlah kepiawain manajemen diuji agar areal yang terbatas tidak menjadi kendala bagi operasional pelabuhan.
Manajemen Pelindo II sedari awal menyadari bahwa areal pelabuhan adalah areal yang terbatas. Perluasan pelabuhan ke arah darat tidaklah mudah karena akan bersinggungan dengan penggunaan lahan oleh masyarakat. Adapun pengembangan ke arah laut membutuhkan biaya dan effort yang luar biasa untuk mewujudkannya. Jalan tengahnya adalah penataan di area yang ada.
Sebagaimana yang dilakukan di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok. Penataan dan pemanfaatan lahan benar-benar menjadi perhatian utama. Seiring dengan semakin banyaknya arus barang yang keluar dan masuk Tanjung Priok, beberapa gudang dihapuskan dan difungsikan menjadi lapangan peti kemas.
Penggunaan lapangan petikemas pun diefektifkan dengan cara menumpuk lebih tinggi petikemas dari sebelumnya. Saat ini petikemas bisa ditumpuk menjadi 7 tier. Sehingga daya tampung pun meningkat tanpa perlu memperluas areal penumpukan.
Konsekuensi logis dari peningkatan pemanfaatan lahan itu adalah perbaikan kualitas dari alat-alat berat dan kondisi lapangan. Alat-alat berat pun diupgrade sehingga meningkat daya jangkaunya mencapai 7 tier. Kualitas jalan dan lapangan penimbunan diperkeras sehingga mampu menahan beban yang lebih berat.
Di area pelabuhan, kelancaran arus masuk dan keluar kapan diperbaiki. Kini akses pelabuhan bagi kapal-kapal yang akan sandar bisa dua arah. Sehinngga kapal yang masuk tidak perlu menunggu terlebih dahulu kapal yang sedang sandar keluar terlebih. Itu artinya pergerakan arus keluar masuk kapal meningkat dua kali lipat.
Di area layanan, peningkatan produktivitas dipacu dengan cara menerapkan standard operating procedure (SOP) yang ketat. Setiap area layanan memiliki service level agreement (SLA) yang harus dipatuhi. Sehingga pengguna jasa bisa memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berurusan di Tanjung Priok.
Hasil peningkatan produktivitas itu terekam dari besarnya arus barang yang keluar dan masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Bila sebelumnya kontainer yang masuk masih dibawah 5 juta Teus pada lima tahun lalu maka kini jumlahnya telah bisa menembus 7 juta Teus pada tahun ini dan menuju di atas 10 juta Teus pada lima tahun mendatang.
Dari sisi penggunan jasa, perbaikan di lingkungan Tanjung Priok juga meningkatkan kepuasan para pengguna jasa. Pada gilirannya pengguna jasa pun bertambah loyal dan akan terus menggunakan layanan di Pelabuhan Tanjung Priok.
Peningkatan produkvitas ini tentu saja tidak lepas dari upaya manajemen Pelindo untuk mengirimkan putra-putri terbaiknya untuk menimba ilmu di berbagai sekolah bisnis terkemuka di banyak negara. Investasi pada sumber daya manusia yang dilakukan seiring dengan investasi pada infrastruktur kepelabuhan telah memberikan hasilnya.
Kini para pengguna jasa pelabuhan yang menikmati hasil dari investasi yang dilakukan manajemen Pelindo berupa perbaikan layanan dan peningkatan produktivitas di pelabuhan. (Q-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved