Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Soal Katabelece SN, Pengamat BUMN: Jangan Seret Pertamina ke Lingkaran Politik

Annisa Ayu
23/11/2015 00:00
 Soal Katabelece SN, Pengamat BUMN: Jangan Seret Pertamina ke Lingkaran Politik
()
 Pemberitaan yang bergulir mengenai surat SN kepada Dirut  Pertamina sangat merugikan Pertamina dan berpotensi
 mengganggu kinerja BUMN tersebut. Untuk itu, tidak ada jalan  lain kecuali menghentikan upaya-upaya yang bisa menyeret
 Pertamina ke lingkaran politik. Tidak hanya saat ini ketika  magnitude pemberitaan mengenai SN sangat kuat, namun juga di
 masa-masa yang akan datang.

 â€œHarus dihentikan. Karena ‘gangguan-gangguan’ seperti  itu akan membuyarkan konsentrasi Pertamina. Pertamina
 menjadi terganggu untuk hal-hal yang semestinya tidak  menjadi domain mereka secara profesional,” kata Toto
 Pranoto, pengamat BUMN Universitas Indonesia.

 Penyeretan Pertamina ke dalam lingkaran politik, menurut  Toto, memang sangat merugikan. Terlebih pada saat ini, ketika
 tantangan yang dihadapi sangat besar. Tantangan  tersebut di antaranya, persiapan agar Pertamina bisa bersaing dengan
 pasar global, serta anjloknya harga minyak dan gas. Itulah  sebabnya, imbuh Toto, meski pemberitaan mengenai SN bergerak  seperti bola liar, hendaknya tidak membawa-bawa BUMN  tersebut.  

“Pertamina saat sedang menghadapi berbagai  tantangan agar bisa survive. Eh kok sekarang ditambah lagi
 dengan persoalan-persoalan politik semacam itu. Tentu sangat  merepotkan,” lanjut Toto. 

 Toto menjelaskan, sebagai entitas bisnis, Pertamina memang  sebaiknya dibiarkan bekerja secara profesional. Apalagi,
 selayaknya BUMN, Pertamina juga merupakan motor penggerak  ekonomi, sehingga harus diperlakukan dan dikondisikan agar  bisa bekerja secara optimal.
 
Hal ini penting, terlebih Indonesia akan menghadapi  Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) awala 2016, di mana kondisi
 persaingan semakin terbuka. “Kalau BUMN terus menjadi  objek permainan politik, kita tidak akan bisa bersaing.
 Kapan kita bisa maju?” katanya. 

 Toto kemudian membandingkan antara Indonesia dan negara  tetangga. Misalnya, bagaimana Malaysia memperlakukan
 Khazanah dan bagaimana Singapura memperlakukan Temasek. Dari  sana Toto melihat bahwa perlakuan para pejabat dan
 politikus Indonesia terhadap BUMN, termasuk Pertamina,  ternyata masih jauh dari harapan. Jika saja pemerintah sudah
 menempatkan BUMN pada ranah bisnisnya, tentu tidak akan ada  lagi penyeretan BUMN ke lingkaran politik.

 Di sisi lain, Toto mendukung sikap Pertamina yang tetap  profesional menghadapi berbagai gangguan tersebut. Manajemen
 Pertamina, lanjut Toto, sudah mendudukkan persoalan ini pada  tempatnya. Meski belum menjadi perusahaan publik, tapi
 Pertamina sudah memegang teguh prinsip-prinsip Good  Corporate Governance (GCG).

“Dari pernyataan mereka, sudah terlihat bahwa Pertamina memang menjalankan tata kelola perusahaan dengan baik. Di era keterbukaan seperti saat ini, orang juga bisa menilai,” lanjutnya.

 Anggota Komisi VII DPR Kurtubi juga setuju bahwa Pertamina  sebaiknya tidak diseret ke dalam lingkaran politik. Termasuk
 di dalamnya, jangan sampai terdapat kepentingan politik yang  dibawa ke ranah bisnis di lingkup BUMN. 

“Pertamina adalah perusahaan negara yang harus dijaga independensinya dalam mengelola minyak dan gas nasional. Tidak boleh ada yang  membawa Pertamina ke persoalan politik dan juga tidak boleh  ada kepentingan politik yang masuk ke Pertamina,” katanya.

Untuk itu Kurtubi juga setuju terhadap sikap Pertamina yang  tetap profesional dan mengedepankan tata kelola perusahaan
 dengan baik. Termasuk menyikapi adanya kepentingan politik  seperti saat ini. “Pertamina memang harus mempetimbangkan
 bisnis murni. Mereka akan menjadikan GCG sebagai  pertimbangan utama,” katanya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya