Rel Kereta Api Percepat Pembangunan Kalimantan Timur
Dero Iqbal Mahendra
20/11/2015 00:00
( ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)
Upaya pemerintan untuk mempercepat pengembangan kawasan industri dimulai dari pembangunan sarana transportasi kereta api yang membentang antara Kabupaten Penajam Paser Utara hingga Kutai Timur, Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Presien Joko Widodo meresmikan mulainya proyek itu dengan groundbreaking jalur kereta api.
Di Kaltim saat ini telah dikembangkan lima kawasan industri sekaligus, yaitu Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) dengan basis industri hilirisasi kelapa sawit, Muara Wahau (industri pengolahan batu bara), Kariangau (industri batu bara, minyak, kayu, dan kimia), Buluminung (industri pengolahan batu bara), serta Kawasan Industri Bontang (industri migas dan kondensat).
"Infrastruktur di Kaltim ini untuk membangun konektivitas antarkawasan industri sehingga lalu lintas logistik dan pasokan bahan baku terjamin, begitu juga pemenuhan sumber daya lainnya," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin usai mendampingi Presiden Jokowi melakukan peresmian proyek jalur kereta yang dipusatkan di kawasan industri Buluminung, Penajam Paser Utara, Kaltim, Kamis (19/11).
Presiden juga melakukan kunjungan dan peresmian proyek lainnya yaitu Pabrik Pupuk Kaltim (PKT-V) di Bontang dan peresmian lanjutan pembangunan Jalan Tol Balikpapan sampai Jembatan Mahkota Samarinda.
Rencananya, jalur transportasi ini bakal terkoneksi ke kawasan industri Kariangau di Balikpapan yang memiliki pelabuhan laut. Selain mengangkut bahan baku industri, angkutan kereta api ini akan dilanjutkan sebagai pengangkut barang dan manusia.
Panjang rel yang dibangun mencapai 275 km yang pembiayaannya atas kerja sama Pemerintah Provinsi Kaltim – Perusahaan Rusia alias tanpa pendanaan APBN.
Perusahaan asal Rusia juga akan membangun industri ikutannya yaitu Technopark yang berlokasi di Buluminung dengan total investasi mencapai kurang lebih Rp72 triliun untuk jalur kereta dan Technopark.
Pemerintah mengapresiasi proyek ini lantaran tidak melalui hutan lindung maupun hutan konservasi dan proyek ini membuka sebanyak 2.500 lapangan kerja bagi masyarakat lokal dan 8.000 pekerja dari seluruh Indonesia.
Selain oleh Rusia, pembangunan rel kereta api juga dilakukan oleh Pemerintah Ral al-Khaimah Uni Emirat Arab dan pembangunannya sudah mulai dilakukan pada Maret 2015 sepanjang 135 Km.
Menperin mengungkapkan pembangunan kawasan industri di provinsi itu diharapkan dapat meningkatkan investasi industri berbasis potensi sumber daya daerah, menumbuhkan pusat-pusat industri yang saling terkoneksi dan menambah kesempatan dan penyerapan tenaga kerja. Selain itu berpotensi meningkatkan sumber pendapatan daerah dan pendapatan devisa.
Ke depan, kawasan industri di Kaltim diharapkan tumbuh menjadi Kawasan Industri Terpadu yang berkelanjutan dan menjadi penggerak utama dalam percepatan pembangunan Industri di luar Pulau Jawa. Selain itu diharapkan dapat menjadi benchmark bagi pembangunan kawasan industri di Indonesia.
Jalan Tol dan Pabrik Pupuk
Selain pembangunan jalur kereta, infrastruktur di Kaltim juga dilengkapi dengan pembangunan jalan tol yang menghubungkan Balikpapan ke Jembatan Mahkota Samarinda dengan panjang 99,02 km. Pengerjaan proyek ini telah dimulai sejak tahun 2011.
Proyek ini terbagi dalam lima paket antara lain Balikpapan-Samboja, Samboja - Palaran I, dan Samboja-Palaran II. Biaya pembangunannya mencapai sebesar Rp9,5 triliun.
Sementara itu, Pabrik Pupuk Kaltim V dibangun sebagai pengganti pabrik PKT I yang operasionalnya sudah kurang efesiensi lagi. Nilai kontrak pembangunan proyek pabrik pupuk ini mencapai US$576 juta.
Beroperasinya pabrik anyar ini menambah kapasitas produksi urea sebesar 455 ribu metrik ton per tahun dan turut mengamankan pasokan pupuk yang berperan dalam produksi pangan dan pertanian.
Presiden juga meresmikan pabrik asam fosfat II yang menelan investasi USD 203 juta milik PT Petrokimia Gresik (Petrogres).
Presiden menyampaikan dengan adanya pabrik asam fosfat ini diharapkan dapat menjamin suplai bahan baku NPK untuk kebutuhan pertanian di Indonesia.
“Tadi disampaikan oleh Dirut Pupuk Kaltim, bisa menghemat biaya bahan baku NPK sampai 20 juta dollar AS per tahun,†ujar Presiden Jokowi yang juga menyebutkan kebutuhan pupuk akan terus meningkat sejalan dengan program perluasan dan ekstensifikasi lahan pangan.
Tahun lalu, kebutuhan pupuk tahun lalu mencapai 6,7 juta ton untuk urea dan 400 ton untuk fosfat. “Selain kita bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, saya meyakini dalam 3-4 tahun ini kita akan bisa mengekspor bahan-bahan pangan ke luar,†pungkas Presiden. (Q-1)