MENGIKUTI perkembangan yang terjadi di Pelabuhan Priok seperti melihat perjalanan negara Indonesia yang menuju pada negara yang maju dan terus berkembang.
Bagi orang yang tidak bersentuhan langsung dengan pelabuhan, kesan kumuh dan semrawut pastilah kesan yang paling banyak dilontarkan bila ditanyakan tentang pelabuhan. Apalagi dengan posisinya yang berada di bibir pantai, maka pelabuhan bisa dikatakan sebagai tempat yang tidak nyaman dan jauh dari kesan menyejukan.
Tapi kondisi itu berbeda dengan yang terjadi saat ini di Pelabuhan Tanjung Priok. Pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo II ini terus berbenah dalam lima tahun terakhir sehingga dampaknya terlihat seperti sekarang ini.
Sejak masuk kawasan pelabuhan, sentuhan modern terlihat pada gerbang yang diubah tampilannya menjadi seperti tampilan minimalis. Tembok-tembok yang terlihat dingin diubah menjadi paduan tiang-tiang besi yang menampilkan kesan kokoh.
Tampilan ke dalam lebih menawan lagi. Karena jajaran peralatan canggih dan modern siap melayani proses bongkar muat yang dijalankan secara efisien oleh operator yang handal.
Perkembangan Pelabuhan Tanjung Priok memang berkembang pesat setelah manajemen baru di bawah pimpinan RJ Lino masuk pada 2009. Upaya perbaikan terus dilakukan di bawah kepemimpinan manajemen baru. Bila pada 2009 lalu total kontainer yang ditangani di pelabuhan ini hanya 36 juta TEUS maka kini jumlahnya telah meningkat dua kali lipat menjadi 7,2 juta TEUS.
Hal ini bisa dilakukan karena manajemen menerapkan perbaikan dalam hal operasional baik dari sisi metode pengelolaan dan penanganan barang hingga perbaikan dalam layanan pelabuhan yang dibuka 24 jam dalam seminggu dan tentu saja pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Itu baru di bagian soft infrastructure.
Pada bagian hard infrastructure, di bawah kendali RJ Lino terus dilakukan perbaikan pada fasilitas yang ada di pelabuhan. Peralatan untuk menangani barang diperbaiki, penggunaan lahan ditata dan terus dimaksimalkan hingga terakhir kin adalah pengembangan pelabuhan baru yang dinamakan New Priok.
Dengan segala perbaikan itu, posisi Pelabuhan Tanjung Priok pun makin membaik dibanding pesaingnya dari Singapura dan Malaysia. Bila dulu hanya kapal-kapal kecil yang bisa merapat, kini kapal-kapal besar pun mulai berdatangan. Mereka justru ingin langsung ke Tanjung Priok tanpa bongkar ke kapal-kapal kecil di Singapura atau Tanjung Pelepas.
Buah perbaikan berjalan seiring dengan keuntungan yang diperoleh, Pelindo II kini bisa meraup triliunan rupiah dari pengoperasian Pelabuhan Tanjung Priok.
Upaya modernisasi tidak hanya berhenti pada Pelabuhan Tanjung Priok. Di pelabuhan-pelabuhan lain yang di bawah kelolaan Pelindo II, modernisasi dan perbaikan juga terus dilakukan. Contoh saja adalah Pelabuhan Baai di Bengkulu. Bila pada 2009, area penumpukan masih sering tergenang oleh hempasan air laut yang masuk ke area penumpukan maka sejak dilakukan peninggian pada 2013, air laut tidak lagi menggenang di area penumpukan. Demikian juga dengan conveyor belt yang telah terlihat tua sejak 2003 mengalami proses renovasi pada 2011.
Atau Pelabuhan Boom Baru di Palembang. Pelabuhan yang berada di sungai ini menjadi sebuah terminal modern yang mampu dilintasi oleh kapal-kapal besar untuk memperlancar arus barang di kawasan Sumatra Selatan.
Dengan berbagai cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, maka Pelindo II mengukuhkan dominasinya sebagai pengangkut barang terbesar dibandingkan Pelindo lainnya. Total ada empat perusahaan pengelola pelabuhan yang dimiliki negara yakni Pelindo I, II, III dan IV. Pelindo II pada 2014 lalu telah berhasil menguasai 49% dari total kontainer yang datang dan pergi dari pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.
Dan itu semua terjadi berkat kerja keras dari setiap insan yang bergerak dan terus melakukan perbaikan di Pelindo II.