Pemerintah menargetkan untuk merestorasi 2 juta hektare lahan gambut yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di seluruh Indonesia. Fokus penanganan berada di enam provinsi yang rawan karhutla, Sumatera Selatan (sumsel), Jambi, Riau, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
"Kemungkinan paling awal itu di Pulang Pisau Kalteng, Musi Banyu Asin dan OKI (Ogan Komering Ilir) di Sumsel, dan Meranti di Riau," ucap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar saat di temui di Palembang, Sumatera Selatan sehabis menutup Diskusi Ahli Internasional bertajuk Defining a Pathway toward a Long-Term Solution to Indonesia's Fire and Haze Crisis with A Focus on Sustainable Peatland Management, Sabtu (14/11).
Restorasi tersbut, lanjut Siti, akan dibarengi dengan pemetaan zonasi kawasan gambut. Sehingga akan diketahui daerah mana yang merupakan kubah (dome) gambut, dan daeah mana yang bisa dibudidayakan.
Sehingga, segala jenis kegiatan yang berada di kubah gambut akan dihilangkan. Termasuk pada korporasi yang sudah memegang izin di kawasan kubah. "Tapi untuk pencabutannya kita akan lihat kapan bisa dilakukan, perlu kajian lagi apakah dalam waktu dekat atau bertahap," tambah Siti.
Sementara untuk yang belum dibuka akan dilarang untuk dilakukan pembukaan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang juga diimbangi lewat surat edaran dari Kementerian LHK pada 3 dan 5 November lalu. "Sementara untuk legalitas apakah Perpres atau PP nya sedang disiapkan," ucap Siti.
Semangat restorasi tersebut merupakan bagian dari transformasi kebijakan Pemerintah dalam menangani karhutla agar tidak berulang pada tahun mendatang. Selain Restorasi, Pemerintah juga merubah paradigma dari penanggulangan menjadi pencegahan, serta melakukan pemulihan terhadap ekosistem gambut.
Sebelumnya, Direktur Pusat Studi Bencana yang juga ahli gambut dari Universitas Riau Haris Gunawan menyatakan gambut yang sudah terbakar mustahil untuk diperbaiki. "Yang bisa diselamatkan adalah yang berada di bawah lapisan yang terbakar," ucap Haris.
Jadi, apabila kebakaran melibas 10 hingga 50 cm lapisan gambut, maka yang berada di bawah 50 cm tersebut lah yang masih ada harapan untuk diselamatkan. Cara penyelamatan menurut Haris adalah dengan membasahi gambut tersebut.
"Menurut pengalaman kami, selalu ada harapan mengembalikan kelembapan gambut," ucap Haris.
Akan tetapi waktu pemulihan tersebut bervariatif, tergantung dari kondisi seberapa kering gambut dan seberapa dalam kandungan airnya.
Akan tetapi, Haris menyatakan masih ada enam hingga tujuh juta hektare lahan gambut yang bisa diselamatkan dari lokasi log over (Kawasan bekas ditebangi, sehingga kanal yang dibuat bertujuan sebagai sarana mengeluarkan kayu hasil tebang). "Inilah harapan kita," tukas Haris.(Q-1)