Pengusaha Beras dan Penggilingan Padi ( Perpadi ) Jawa Tengah terus mengingatkan kepada pemerintah, agar lebih ketat mengawasi proses kedatangan beras impor Vietnam, guna mengantisipasi pemain ilegal yang membonceng di belakangnya.
"Banyak pelabuhan tikus dan banyak cara. Kami yakin, para pembonceng pasti tetap bergerak menjadi pemain 'spanyolan' (separuh nyolong). Jika ini terjadi, pasti akan menganggu penyediaan kebutuhan beras periode Januari - Maret 2016. Gejolak harga pasti menjadi semakin tidak karuan, karena beras dari Vietnam itu hanya Rp 6000," ujar Ketua Perpadi Jateng, Tulus Budiono kepada Media Indonesia, Minggu (15/11).
Ia paparkan, pemerintah memang mesti cermat dan hati-hati di dalam memanfaatkan beras impor 1 juta ton yang didatangkan dari Vietnam, seiring progres serapan beras nasional oleh Bulog belum memenuhi target. Dari upaya pemenuhan prognosa 3,1 juta ton sisa musim panen tahun ini, serapan baru menginjak angka 2 juta lebih sedikit.
"Jadi memang penyediaan kebutuhan beras untuk periode Januari - Maret 2016 yang bersumber dari produksi dalam negeri perlu hitungan cermat. Ya ini sebagai upaya agar tidak salah langkah. Jangan sampai kemudian, kelengahan dimanfaatkan para pembonceng yang memasukkan beras impor ilegal. Ini tugas siapa, pemerintah yang lebih tahu," ujar Tulus sekali lagi.
Pada bagian lain, menyikapi beras impor satu juta ton yang kini sudah sampai di pelabuhan-pelabuhan utama di tanah air, Perpadi Jawa Tengah akan mengadakan pertemuan dengan para anggotanya. Mereka akan melakukan evaluasi, dan juga perlunya menghitung, agar kepentingan petani bisa tetap terjaga di pasar. (Q-1)