Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA holding pertambangan, yakni PT Bukit Asam, akan berkolaborasi dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk untuk mendirikan pabrik pengolahan batu bara.
Pabrik gasifikasi yang ditargetkan mulai beroperasi pada November 2022 tersebut mengonversi batu bara muda menjadi bahan lanjutan. PT Inalum (Persero) selaku induk holding pertambangan memandang proses penghiliran batu bara itu dapat mengurangi impor bahan baku industri tambang.
Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin menuturkan konversi batu bara akan menghasilkan syngas yang merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi dimethyl ether (DME), bahan bakar sejenis elpiji. Selain DME, dari batu bara juga bisa dihasilkan bahan baku pupuk urea dan polypropylene yang merupakan bahan baku plastik.
"Selain jadi listrik, batu bara bisa jadi syngas itu untuk hilirisasi tahap I, untuk tahap II nya bisa jadi banyak, pupuk urea, polypropylene, dan DME mirip sama elpiji," terang Budi saat ditemui di Kantor PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang, Minggu (28/10).
Ia menuturkan produksi tersebut nantinya akan dapat memenuhi kebutuhan syngas sebesar 500 ribu per tahun, 400 ribu ton DME per tahun, dan 450 ribu ton polypropylene per tahun.
Dengan target pemenuhan kebutuhan sebesar itu diperkirakan kebutuhan batu bara sebagai bahan baku akan sebesar 9 juta ton per tahun, termasuk untuk mendukung kebutuhan batu bara bagi pembangkit listrik. Adapun keseluruhan proyek pabrik gasifikasi diperkirakan bernilai lebih dari US$3 miliar (sekitar Rp45 triliun).
Lebih lanjut, Budi mengatakan bulan depan direncanakan akan ada penandatanganan kerja sama antara PT Inalum dengan perusahaan asal Amerika Serikat Air Products, PT Bukti Asam, dan PT Pertamina terkait penghiliran batu bara.
"Bulan depan kita akan ada tanda tangan kerja sama antara PT Bukit Asam, Pertamina dan Air Product untuk mengolah baru bara jadi syngas dan DME," ujarnya.
Holding Industri Pertambangan (HIP) menjadi salah satu tulang punggung negara dalam mendulang devisa dari hasil ekspor dan mengurangi ketergantungan bahan baku dari impor.
HIP memperkirakan penjualan hasil ekspor hingga 2018 sebesar US$2,51 miliar atau sekitar Rp37 triliun. Adapun hingga Agustus 2018, telah terealisasi US$1,57 miliar atau 62,5% dari proyeksi. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved