Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Likuiditas Bank Cukup Meski Simpanan Tumbuh Melambat

Fetry Wuryasti
23/10/2018 17:05
Likuiditas Bank Cukup Meski Simpanan Tumbuh Melambat
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

BANK Indonesia memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga disertai intermediasi perbankan yang meningkat dan risiko kredit yang terkelola dengan baik.

Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan tetap tinggi mencapai 22,8% dan rasio likuiditas masih aman, yaitu sebesar 18,3%, pada Agustus 2018. Rasio likuiditas dihitung dari membandingkan nilai aset likuid dan dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan.

Selain itu, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) tetap rendah, sebesar 2,7% (gross) atau 1,3% (net). Pertumbuhan kredit pada Agustus 2018 tercatat sebesar 12,1% (ketimbang Agustus 2017/yoy), lebih tinggi ketimbang pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,3% (yoy).

Adapun pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Agustus 2018 sebesar 6,9% (yoy), stabil jika dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang berada di angka sama.

Sementara pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, penerbitan saham (IPO dan rights issue), obligasi korporasi, medium term notes (MTN), dan negotiable certificate of deposit (NCD) selama Januari hingga Agustus 2018 tercatat sebesar Rp146,1 triliun (gross), turun ketimbang periode yang sama 2017 sebesar Rp183,7 triliun (gross).

"Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2018 masih berada dalam kisaran proyeksi 10%-12% (yoy), sementara pertumbuhan DPK diprakirakan akan mengalami perlambatan, berada di batas bawah kisaran 8,0%-10,0% (yoy)," ujar Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara, di Jakarta , Selasa (23/10).

Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto mengatakan pesatnya pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor konsumsi dan lain-lain. Salah satu akibat dari pesatnya pertumbuhan kredit yaitu rendahnya pertumbuhan dari DPK.

Menurut Erwin, banyak perusahaan menggunakan belanja modal yang berasal dari dana internal dan itu mengurangi simpanan mereka. Namum gap antara pertumbuhan kredit dan DPK ini, dipastikan BI tidak akan mengakibatkan likuiditas ketat.

"Kita tahu dalam tahun terakhir pertumbuhan kredit relatif sangat rendah. Sehingga perbankan banyak menempatkan dana ke dalam surat berharga," paparnya.

Bila dilihat dari alat likuid perbankan, memang cukup besar tersimpan di surat berharga negara (SBN), variabelnya mencapai 18,1%. Padahal yang disyaratkan hanya 10%.

"Dengan perbankan menurunkan alat likuidnya sebenarnya perbankan tidak ada masalah dalam pembiayaan kreditnya. Pertumbuhan kredit pun terjadi merata di semua pulau di Indonesia," tukas Erwin. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya