Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) membantah klaim Kementerian Pertanian (Kementan) yang mengaku telah menghentikan impor jagung.
Berdasarkan data BPS, jumlah impor jagung atau maize yang diperuntukkan bagi industri makanan dan minuman serta pembuatan popcorn masih sangat besar.
Untuk produk serealia dengan kode HS 10059090 yakni maize, other than seed, other than popcorn, sepanjang Januari hingga September, impornya mencapai US$101,37 juta. Jumlah tersebut jauh di atas total impor untuk produk yang sama, pada periode yang sama di tahun sebelumnya, yang hanya US$71,91 juta.
Ada pula untuk produksi popcorn, jagung yang diimpor masih sebesar US$2,73 juta, tumbuh 6,21% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, US$2,57 juta.
Kepala Subdirektorat Impor BPS Rina Dwi Sulastri mengatakan pihaknya mulai menelusuri kebenaran terkait kebijakan impor jagung setelah Kementan terus menerus menyatakan tidak ada pembelian jagung dari luar negeri.
"Tetapi kenyataannya, data di BPS impor jagung itu masih ada. Dari situ kami mulai selisik dan ditemukan maize ini," ujar Rina di kantornya, Jakarta, Senin (15/10).
Ia menjelaskan maize ialah produk jagung yang kegunaannya ditujukan untuk tiga hal yakni bibit, popcorn, serta industri makanan dan minuman. Salah satu perusahaan yang membutuhkan maize ialah yang berperan sebagai produsen gula jagung atau yang dianggap ramah terhadap pengidap diabetes.
"Yang banyak impor itu perusahaan food and beverage, gula jagung salah satunya," tutur Rina.
Ia mengatakan jagung hasil produksi lokal memiliki kualitas yang kurang baik untuk dijadikan bahan baku industri makanan dan minuman.
"Sama seperti garam. Garam lokal kita dan yang impor itu beda dari sisi kandungannya. Yang impor lebih baik kualitasnya dan dari sisi harga pun jauh sekali," tandas Rina. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved