Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Neraca Perdagangan Surplus pada September

Andhika Prasetyo
15/10/2018 14:00
Neraca Perdagangan Surplus pada September
(ANTARA/M Agung Rajasa)

NERACA perdagangan Indonesia pada September mengalami surplus sebesar US$227 juta. Hasil itu dicapai lantaran kinerja ekspor pada bulan kesembilan sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan impor yang direalisasikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor pada September sebesar US$14,84 miliar. Adapun nilai impor sebesar US$14,60 miliar.

Direktur Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti mengungkapkan nilai impor pada September lebih rendah 13,18% ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai US$16,82 miliar. Kendati demikian, jika ditilik secara tahunan, angka impor melonjak 14,18%.

Secara rinci, impor didominasi sektor nonmigas dengan nilai US$12,32 miliar, turun 10,52% dari Agustus yang menyentuh US$13,77 miliar. Impor migas turun 25,20% dari US$3,05 miliar pada Agustus menjadi US$2,28 miliar pada September.

Impor nonmigas pada September yang terbesar masih berasal dari sektor bahan baku penolong dengan kontribusi 74,82% atau sebesar US$10,9 miliar. Disusul barang modal 16,12% atau setara US$2,35 miliar dan terakhir barang konsumsi sebesar 9,06% atau US$1,3 miliar.

"Untuk bahan baku penolong, kita banyak impor kedelai dari Argentina, potasium klorit dari Kanada dan gula mentah dari Thailand. Sementara, untuk barang modal ada gasoline generating, eskavator dan kapal roro," ujar Yunita di kantornya, Jakarta, Senin (15/10).

Adapun untuk barang konsumsi, produk pangan seperti beras, daging beku, jagung dan anggur masih mendominasi. Terdapat juga mesin pendingin ruangan yang didatangkan dari Malaysia dan Thailand.

Yunita berharap, dalam sisa beberapa bulan terakhir, nilai impor dapat terus ditekan sehingga neraca perdagangan Indonesia bisa mengalami perbaikan.

Secara akumulasi sejak Januari hingga September, total ekspor Indonesia tercatat sebesar US$134,98 miliar. Nilai impor masih lebih tinggi, yakni US$138,76 miliar, sehingga terdapat defisit neraca perdagangan sebesar US$3,78 miliar.

Kinerja perdagangan dalam negeri dapat dikatakan tertolong oleh ekspor nonmigas yang sepanjang tahun ini telah menorehkan angka US$122,314 miliar, lebih tinggi jika dibandingkan dengan permintaan impor sebesar US$116,72 miliar.

Artinya, dari sektor nonmigas, terdapat surplus US$5,59 miliar. Namun, angka itu belum mampu menutupi defisit impor migas yang kini membengkak hingga US$9,37 miliar. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya