Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

23 Perusahaan Antre untuk IPO Tahun Ini

Fetry Wuryasti
28/9/2018 20:00
23 Perusahaan Antre untuk IPO Tahun Ini
(ANTARA)

BURSA Efek Indonesia (BEI) sampai September 2018 mencatat sebanyak 600 perusahaan telah memanfaatkan pendanaan penerbitan saham di BEI. Jumlah perusahaan yang mencatatkan saham dari Januari 2018 sampai dengan hari ini (28/9), yaitu 37 perusahaan tercatat.

Jumlah tersebut telah melampaui jumlah perusahaan tercatat saham yang ditargetkan sepanjang 2018, yaitu 35 perusahaan.

"Ini menunjukkan bahwa usaha BEI dalam peningkatan jumlah perusahaan tercatat disambut baik oleh dunia usaha. Para wirausaha menunjukkan antusiasme dengan memilih opsi pendanaan melalui pasar modal guna mempercepat pertumbuhan perusahaan," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, di Jakarta, Jumat (28/9).

Tidak berhenti di angka 600 perusahaan tercatat, BEI tetap dan akan senantiasa berkomitmen untuk mendorong peningkatan jumlah perusahaan tercatat dengan berbagai upaya. Kepada emiten yang telah berkiprah di pasar modal, BEI akan memastikan tata kelola mereka sehingga benar-benar menjadi emiten yang memiliki nilai.

"Kami sadar banyak hal yang harus dilakukan. Pertama, kami ingin pastikan corporate governance karena dari sini akan ada kepercayaan  dari semua investor. Kedua, setelah kami melihat kembali lagi ke future prospect secara bisnis. Kami pastikan perusahaan yang berencana shifting ke bisnis tertentu memiliki prospek di masa depan," paparnya.

Dengan begitu, kata Nyoman, para emiten mampu memberikan nilai tinggi buat pemangku kepentingan, khususnya yang berinvestasi di perusahaan yang bersangkutan.

Lebih lanjut Nyoman mengungkapkan, dengan sisa bulan di 2018 masih terdapat 23 calon emiten yang sedang mengantre untuk melantai di pasar modal. Sebanyak 6 perusahaan menggunakan tahun buku keuangan Maret 2018, 6 perusahaan lainnya menggunakan tahun buku April 2018, 7 perusahaan  memakai buku keuangan Mei 2018, 2 perusahaan memakai tahun buku Juni 201i, dan 1 perusahaan mengajukan penerbitan saham perdana (IPO) dengan tahun buku laporan Juli 2018.

"Di pipeline masih beberapa terutama mereka yang tahun bukunya sudah diperbaiki. Sebab untuk perusahaan yang telah menyampaikan laporan keuangan per Maret (2018), mungkin September sudah habis batas waktunya untuk IPO. Hari ini jadi mudah-mudahan optimistis semua di pipeline itu bisa mencatatkan sahamnya periode tahun ini," tutur Nyoman.

Hari ini, PT Natura City Developments Tbk resmi mencatatkan saham perdana atau Innitial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten dengan kode saham CITY tersebut jadi perusahaan ke-37 yang melantai pada tahun ini dan ke-600 yang melantai sepanjang BEI berdiri.

Anak usaha PT Sentul City Tbk (BKSL) ini melepas 2,6 miliar saham baru pada harga Rp 120 per lembar. Itu disertai penerbitan sebanyak 975 juta waran seri I yang setiap 8 saham IPO, para investor akan memperoleh 3 waran seri I.

Pada pembukaan perdagangan, saham CITY melonjak naik 84 poin atau 70% ke level Rp204 per lembar saham dari harga pembukaan Rp124. Saham CITY ditransaksikan sebanyak 33 kali dengan volume sebanyak 90 lot dan menghasilkan nilai transaksi Rp1,84 juta.

Direktur Utama Natura City Elfi Daris menyatakan, pencatatan saham perdana jadi langkah awal perusahaan untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada.

"Visi kami menjadi perusahaan properti utama karena kami meningkatkan kualitas kehidupan dan tumbuh bersama dengan pemegang saham," ujarnya di kesempatan yang sama.

Adapun total dana yang diperoleh perusahaan dari IPO sebesar Rp312 miliar. Dana segar akan digunakan untuk pengembangan usaha, tambahan perolehan tanah, serta modal kerja.

Dalam pengembangan usaha, ke depannya perseroan juga menjajaki untuk merambah ke daerah lainnya di Jawa Barat dan Sumatera. "Sambil mengembangkan daerah Serpong kami akan terus melihat potensi willayah lain dan sedang menjajaki ekspansi ke luar Pulau Jawa" tambah Elfi.

Secara keuangan untuk periode Desember 2017, perusahaan yang bergerak di bidang properti tersebut mencatatkan pendapatan sebesar Rp246 miliar, dengan laba usaha Rp103 miliar dan laba bersih Rp105 miliar, dengan margin laba usaha dan laba bersih sekitar 43%. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya