Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Likuiditas Mengetat, BTN Mulai Naikkan Bunga Deposito

Fetry Wuryasti
13/9/2018 21:45
Likuiditas Mengetat, BTN Mulai Naikkan Bunga Deposito
(DOK BTN)

BTN secara selektif menaikkan tingkat bunga deposito special rate. Selain untuk memperlonggar likuiditas yang mengetat, hal tersebut sekaligus menjaga daya saing BTN di pasar mediasi.

"Special rate kami memang ada yang dinaikkan. Tapi itu hanya satu dua saja. Intinya, kalau bank lain menaikkan kami pasti juga sama. Hanya mengikuti saja," ungkap Direktur Strategi, Resiko dan Kepatuhan BTN Mahelan Prabantarikso, di Jakarta, Kamis (13/9).

Begitu juga untuk rata-rata suku bunga deposito. Bank yang fokus menyalurkan kredit perumahan ini mencatatkan sejak Bank Indonesia (BI) menaikkan tingkat bunga acuannya, perseroan sudah naikkan bunga deposito sebanyak 25 basis poin (bps), dan sejak awal tahun dikatakan Dirut BTN Maryono, suku bunga deposito telah naik antara 0,5%-0,75%.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)  LPS mencatat tingkat rasio kredit perbankan terhadap dana pihak ketiga (DPK) atau loan to deposit ratio (LDR) tengah mengetat, terutama pada bank umum kelompok usaha umum (BUKU) III dan IV. Berdasarkan pemantauan LPS, LDR BUKU IV berada di posisi 89,1% per akhir Juli 2018 naik dari posisi di Juli 2017 yang sebesar 86,9%.

Adapun BUKU III tembus hingga ke level 104,3% pada Juli 2018 lalu. Posisi LDR BUKU III itu lebih tinggi ketimbang setahun sebelumnya yang di angka 98%.

Menurut Mahelan tiap bank punya cara tersendiri untuk menjaga likuditas. Saat ini LDR perseroan memang di atas 100%. Meski begitu, Mahelan menyatatakan hal itu terbilang normal untuk BTN yang masuk dalam BUKU III.

Pasalnya, perseroan menggunakan sebagian dana jangka pendek untuk membiayai kredit jangka panjang. Selain, menaikkan bunga deposito secara seleltif, BTN mencoba melonggarkan likuiditas dengan sumber lain.

"Pasti ada mismatched. Namun, untuk memitigasi kami mengalihkan dana mahal menjadi murah. Lalu dari dana deposito menjadi wholesale seperti obligasi," katanya.

BTN pun berharap Bank Indonesia memberikan kebijakan untuk melonggarkan likuditas agar bisa menumbuhkan sektor riil.

"Ya itu, (butuh) pelonggaran dari likuiditas. Misal GWM (Giro Wajib Minimum) bisa saja dikurangi, tapi dikurangi dengan menunjukan kapasitas masing-masing bank. Tidak disamaratakan. GWM bisa kita atur supaya dana dari bank itu bisa digunakan secara efektif," imbuh Maryono.

Sebelumnya Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengungkapkan, posisi LDR BUKU III sudah jauh melebihi batas prudensial yang ditetapkan OJK di kisaran 92%.

Sementara itu, LDR BUKU I dan BUKU II masih terbilang aman walau tercatat meningkat pesat. Per Juli 2018 BUKU II membukukan LDR secara rata-rata sebesar 82,8% naik dari 77,4% per Juli 2017. BUKU I naik ke level 81,7% dari posisi periode yang sama tahun lalu 71,7%.

Fauzi menambahkan, tingginya LDR tersebut membuat bank besar di BUKU IV dan BUKU III terpaksa menaikkan suku bunga deposito special rate. Hal ini dilakukan semata-mata agar komposisi DPK dapat disesuaikan dengan kebutuhan kredit.

Catatan LPS, kenaikan special rate deposito BUKU III dan IV per Juli 2018 sudah setara atau bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan BUKU I dan BUKU II.

"BUKU III dan BUKU IV itu menawarkan special rate yang menyamai atau melebihi special rate BUKU I dan II. Ini tidak normal, karena biasanya kebutuhan dana BUKU I dan BUKU II lebih tinggi dan mengandalkan deposito. Berbeda dengan BUKU IV dan BUKU III, artinya memang terjadi peningkatan dari sisi LDR," ujar Fauzi saat ditemui di Jakarta, Rabu (13/9).

Berdasarkan pemantauan LPS, special rate deposito BUKU IV berada di level 6,64%, sedangkan BUKU II di 6,7%. BUKU II mencatatkan 6,66% dan BUKU I 5,57%. Adapun, suku bunga special rata-rata industri 6,65%.

Melihat tren ini, LPS memprediksi kenaikan suku bunga simpanan masih akan terus berlanjut kendati mayoritas bank telah menaikkan tingkat bunga simpanannya. Fauzi beranggapan, bank besar tetap harus mendorong pertumbuhan kredit dan DPK lantaran permintaan kredit saat ini masih cukup tinggi.

"Harus dua-duanya, karena juga kredit itu memang lagi besar. Terutama saat ini pembiayaan proyek dalam bentuk valas, kalau likuiditas ketat tentu akan sulit bagi bank untuk menyalurkan kredit," tukas Fauzi. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya