Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Isu Guncangan Ekonomi Global Warnai Kunjungan Jokowi ke Korea Selatan

Tesa Oktiana Surbakti
06/9/2018 19:20
Isu Guncangan Ekonomi Global Warnai Kunjungan Jokowi ke Korea Selatan
( ANTARA FOTO/HO/Kemenlu-Kemal Fasa)

PEMBAHASAN isu krisis ekonomi global yang turut mengguncang negara-negara pazsar berkembang akan mewarnai pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Kepala Negara dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Seoul, Korea Selatan, pada 10-11 September 2018.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi turut serta dalam kunjungan balasan dari lawatan Presiden Korea Selatan di Indonesia pada akhir 2017. Pertemuan bilateral pun bersamaan dengan peringatan 45 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Korea Selatan.

Kunjungan kenegaraan bertujuan memperat kemitraan kedua negara yang sudah ditingkatkan menjadi special strategic partnership dengan penajaman akselerasi sektor industri di Indonesia.

"Tujuan kunjungan kenegaraan ini untuk memperat kerja sama special strategic partnership yang belum lama diteken tahun lalu. Termasuk memperkuat kerja sama ekonomi di tengah situasi global yang tidak menentu," jelas juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir dalam media briefing, Kamis (6/9), di Jakarta.

Dalam menghadapi gelombang krisis ekonomi yang disertai pelemahan nilai tukar dan keluarnya arus modal, peningkatan kerja sama di sektor perdagangan dan investasi bisa menjadi strategi untuk membendung risiko tersebut.

Nantinya juga diadakan forum bisnis berskala besar yang melibatkan 300 pengusaha dari kedua negara, maupun forum bisnis yang bersifat one on one. Beberapa perusahaan Korea Selatan yang mengkonfirmasi terlibat dalam forum bisnis one on one, di antaranya Posco, Lotte Co Ltd, CJ Corporation dan Hyundai Motor Company.

Meski masih dalam tahap negosiasi, investor asal 'Negeri Ginseng' direncanakan menandatangani 10 kesepakatan kerja sama yang nilainya di atas US$1 miliar.

"Rencananya investasi dari perusahaan asal Korea Selatan menyasar sektor otomotif, transportasi, infrastruktur dan energi. Semoga komitmen invetasi dapat tercapai saat pertemuan," imbuh Direktur Asia Timur dan Pasifik Edi Yusuf.

Edi menekankan kontribusi investasi Korea Selatan di Indonesia relatif besar, yakni urutan ke-4. Menurutnya, banyak investor Korea Selatan tertarik menanamkan modal untuk mengembangkan industri manufaktur yang menjadi basis produksi.

Dia mencontohkan rencana pembangunan pabrik kendaraan roda dua oleh Hyundai Motor Company, serta Lotte Co Ltd, yang berupaya menyelesaikan pembangunan proyek pabrik petrokimia terbesar di Indonesia. Dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kedua negara pun dapat memanfaatkan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA).

Apalagi, Korea Selatan dan Indonesia memiliki hubungan perdagangan. Kedua negara bisa mengambil keuntungan dari perjanjian perdagangan bebas Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang perundingannya ditargetkan rampung tahun ini.

"Isu lain yang dibahas dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Korea Selatan, juga terkait Semenanjung Korea. Di sini Indonesia mendukung perdamaian di wilayah Semenanjung Korea dan denuklirisasi," tutur Edi.

Kedua negara juga bakal membahas kerja sama memperluas kapasitas generasi muda, baik yang melibatkan pemerintah maupun swasta. Presiden Jokowi bahkan dijadwalkan memberi kuliah umum di Dongguk University, serta akan ikut jalan santai dengan sejumlah pemuda asal Korea Selatan dan pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di negeri tersebut.

Jajaran kementerian dalam Kabinet Kerja juga akan menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) untuk mempertajam kerja sama dengan kementerian atau lembaga dari Korea Selatan. Misalnya, terkait isu perlindungan pekerja dari masing-masing negara, keimigrasian yang menyangkut kemudahan pengurusan visa, hingga keamanan maritim yang mencakup latihan militer bersama.(A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya