Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Pemerintah Targetkan Himpun Mininal Rp1 Triliun dari SBR004

Fetry Wuryasti
20/8/2018 14:15
Pemerintah Targetkan Himpun Mininal Rp1 Triliun dari SBR004
Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (Dirjen PPR) Luky Alfirman(Antara/Galih Pradipta)

MASA penawaran Saving Bonds Ritel (SBR) seri SBR004 resmi dibuka kepada investor individu secara daring (e-SBN). Masa penawaran berlangsung sejak hari ini (20/8) hingga 13 September mendatang, dengan kupon yang ditawarkan 8,05% per tahun dan tenor 2 tahun.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (Dirjen PPR) Luky Alfirman mengatakan penerbitan itu adalah lanjutan dari SBR003. SBR004 berupa obligasi negara tanpa warkat dengan minimum pemesanan Rp1 juta dan maksimum pemesanan Rp3 miliar.

Yang menjadi kelebihan dari SBR tersebut yaitu tingkat kupon untuk periode tiga bulan pertama sebesar 8,05% berasal dari suku bunga acuan yang berlaku saat penetapan kupon yakni 5,5%, ditambah selisih tetap sebesar 2,55%. Periode itu mulai dari 19 September sampai 20 Desember 2018.

Tingkat kupon berikutnya akan disesuaikan setiap tiga bulan pada tanggal penyesuaian kupon sampai dengan jatuh tempo. Target dana yang dihimpun dari penerbitan SBR004 ditetapkan sebesar Rp1 triliun, dengan tambahan hingga Rp3 trilun-Rp5 triliun sesuai minat masyarakat.

"Tingkat kupon 8,05% ini berlaku sebagai kupon minimal yang tidak akan berubah sampai tanggal jatuh tempo. PPh yang berlaku 15%. Ini masih lebih menarik daripada pajak deposito yang 20%," ujar Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (Dirjen PPR) Luky Alfirman, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta , Senin (20/8).

Penerbitan SBR merupakan program pemerintah dalam rangka pendalaman pasar keuangan. Pemerintah ingin memperluas basis domestik khususnya ritel.

"Penerbitan-penerbitan ini untuk pemenuhan target pembiayaa . Sampai saat ini penerbitan SBR sudah mencapai 66%. Kita masih memiliki pekerjaan rumah lagi sampai akhir tahun, salah satunya dengan penerbitan SBR004. Dalam semester 2 ini target kami meluncurkan SBR004. Oktober kami rencananya akan terbitkan ORI (Obligasi Ritel Indonesia) kemudian di November kita akan menerbitkan sukuk tabungan," papar Luky.

Perbedaan dari SBR sebelumnya, yakni SBR 002, target minimum pembelian Rp5 juta dan maksimum Rp5 miliar. Pada SBR003 karena mengupayakan perluasan basis investasi domestik, pemerintah mematok target minimum pembelian menjadi Rp1 juta dengan kelipatannya.

Dahulu SBR berbasis LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) rate, kini menjadi berbasis BI 7-Day Reverse Repo Rate. Dari statistik SBR003, pemesanan mencapai mencapai lebih dari 10 ribu investor.

Luky mengatakan, dari jumlah tersebut yang membeli kurang lebih 7.600 investor dan sekitar 5.600 merupakan investor baru. Bila dilihat komposisinya, 55% dari investor baru berusia di bawah 40 tahun. Rata-rata pembelian per investor dari sebelumnya Rp350 juta, sekarang turun menjadi Rp252 juta.

"Jadi sifat ritelnya sangat terlihat bisa dicapai dengan cukup baik. Memang waktu itu masukan dari masyarakat, masa penawaran SBR003 terlalu sempit hanya sekitar 2 minggu . Maka pemerintah untuk menampung animo kami memutuskan SBR004 masa penawarannya lebih panjang bisa mencapai 4 minggu," tutur Luky. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya