Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Keputusan RDG BI Hari Ini Layaknya Pedang Bermata Dua

Fetry Wuryasti
14/8/2018 19:40
Keputusan RDG BI Hari Ini Layaknya Pedang Bermata Dua
(Ist)

BANK Indonesia (BI) diekspektasikan pasar dan analis akan menaikkan suku bunga kebijakan BI 7 Day Repo Rate sebesar 50 basis poin (bps). Analis PT Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan keputusan naik tidaknya suku bunga acuan layaknya pedang bermata dua.

"Katanya mungkin mau naik 50 bps. Itu diperlukan untuk membantu apresiasi rupiah. Tapi di satu sisi, ini membawa impak buruk kepada sektor perbankan. Otomatis sektor perbankan merupakan tulang punggung IHSG. Nanti bikin IHSG tambah anjlok lagi. Jadi seperti pedang bermata dua mana yang mau diselamatkan," ujarnya ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/8).

Apresiasi rupiah memang juga terjadi karena imbas melebarnya defisit transaksi berjalan (CAD) yang secara kuartal per kuartal menyentuh 3% dari produk domestik bruto (PDB) dengan nilai US$8 miliar.

Meski begitu, Liza menyakini dampak negatid defisit CAD yang melebar itu hanya temporer. Secara siklus, pertumbuhan ekonomi biasanya turun pada kuartal ketiga dan naik kembali di kuartal keempat.

Pengendalian pelemahan nilai tukar rupiah di satu sisi harus dilakukan karena pemerintah harus membayar utang luar negeri. Bila tidak, cadangan devisa bakal banyak tergerus.

"Cadangan devisa digunakan  untuk membayar utang dan sekarang ditambah untuk membantu rupiah juga. Ini akan membuat cadev makin lama makin susut," tutur Liza.

Di sisi lain, bila BI tidak menaikkan suku bunga, Indonesia harus mengurangi impor lebih besar lagi. Itu juga berdampak pada perekonomian karena impor banyak pada barang modal.

"Sudah juga diamanatkan Jokowi untuk mengurangi proyek infrastruktur yang tidak begitu penting. Gunanya untuk kita tidak banyak belanja dalam dolar AS karena dolar sedang kuat. Sehingga jujur agak sulit," papar Liza.

Apapun hasil keputusan RDG BI, menurut Liza, akan agak sulit mendongkrak pasar dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Alasannya, krisis Turki tidak bisa selesai dalam semalam dan pasar sudah terlanjur terkoreksi begitu dalam.

"Agak kurang sinkron, kalau saya melihat dolar AS masih punya potensi naik, tapi saya juga mengharap IHSG kembali ke 6.500 di akhir tahun.  Jadi untuk masa-masa sekarang, pasar juga masih volatile, perhatikan kondisi regional, jangan terlalu agresif buka posisi. Target IHSG konservatif, 6.300 saja di akhir  sudah bagus. Sebab posisi sekarang di level 5.700-an," tandas Liza. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya