Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

IHSG Kembali Terdampak Krisis Turki

Fetry Wuryasti
14/8/2018 19:10
IHSG Kembali Terdampak Krisis Turki
(ANTARA)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (14/8) ditutup melemah 91,37 poin (-1,56%) pada level 5.769,88 dari penutupan sebelumnya di level 5.861,25.

Analis PT Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan tergerusnya IHSG merupakan imbas di situasi regional, khususnya krisis Turki. "Turkish lira jatuh itu membawa pengaruh juga kepada pelemahan rupiah. Sebenarnya dolar AS menguat kepada banyak mata uang," ujar Liza ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/8).

Dari dalam negeri, defisit transaksi berjalan (CAD) yang membesar juga menjadi penyebab. Hasil pertumbuhan ekonomi 5,27% pun diketahui digerakkan bukan karena investasi yang meningkat, melainkan karena konsumsi, yaitu adanya gaji ke-13 dan pembayaran Tunjangan Hari Raya.

"Itu diperkuat dengan data FDI (penanaman modal asing) untuk kuartal kedua juga menurun jika dibandingkan dengankuartal pertama dan tahun sebelumnya," jelas Liza.

Realisasi investasi di kuartal II 2018 menurun ketimbang kuartal sebelumnya. Jika pada kuartal I 2018, investasi tercatat Rp185,3 triliun, pada kuartal II hanya Rp176,3 triliun atau turun 4,9%.

Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada kuartal II 2018 tercatat Rp80,6 triliun atau naik sedikit dari kuartal I 2018 yang sebesar Rp76,4 triliun.

Dengan begitu, realisasi investasi kumulatif PMA dan PMDN selama April-Juni 2018 sebesar Rp176,3 triliun atau turun 4,9% jika dibandingkan dengan periode Januari-Maret yang mencapai Rp185,3 triliun.

"Jadi imbas terjadi, walaupun data-data ekonomi kita lebih baik daripada Turki, dan Turki juga kena perang dagang oleh AS, karena dia negara yang digerakkan oleh konsumsi dan membiayai pembangunan ekonomi negaranya dengan banyak utang," tutur Liza.

Menurut Liza, ketika suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Fed rate) rendah, Turki mengambil banyak utang. Kemudian ketika Fed rate mulai naik, mulai terasa beratnya bayar utang. Apalagi keran pendapatan Turki dikenai tarif oleh AS melalui kebijakan baru Donlad Trump.

"Pada logam dan alumunium itu dikasih bea impor ditinggikan. Jadi Turki mau jualan di satu sisi untuk pendapatan dia untuk menutupi utangnya, kemudian terjegal oleh perang dagang. Keadaannya sulit untuk Turki," ujar Liza.  (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya