Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
RUPIAH pada perdagangan Selasa (24/7) ditutup melemah 64 poin (0,44%) di level 14.545. Namun dalam tiga bulan ke depan pergerakan rupiah akan bisa kembali normal atau mendekati titik fundamentalnya di 13.700.
Research Analyst PT Narada Kapital Indonesia, Kiswoyo Adi Joe, melihat penguatan dolar AS dalam teknikal sudah mulai terbatas. Hal ini didukung dengan perdebatan internal AS saat Presiden Donald Trump mengomentari kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) yang terus menaikkan suku bunga. Akibatnya nilai dolar menguat, namun posisi AS di perdagangan global menjadi tidak aman.
Dari The Fed pun, kata Kiswoyo, ada kekhawatiran akan takut perang dagang dapat mencelakakan dan memperlambat ekonomi AS. "Bila ekonomi AS lambat, mereka tidak akan menaikkan suku bunga. dan USD melemah kembali. Itu yang ditunggu market," ujar Kiswoyo ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (24/7).
Kiswoyo menyatakan tidak mungkin Bank Indonesia harus terus mengintervensi posisi rupiah yang lemah layaknya menggarami laut. Lagipula pada teknikal kenaikannya dolar AS masih dalam fase tren melemlah.
"Normalisasi rupiah dari berbagai instrumen kebijakan BI butuh 3 bulan. Sekarang langkah BI sudah bagus. Kemarin BI terlambat karena suku bunga di atas saat The Fed turunkan. The Fed beri sinyal naik , malah baru turunkan BI 7 Day Reverse Repo. Jadi dulu memang telat," paparnya.
Keputusan Bank Indonesia kemarin yang menahan suku bunga kebijakan di 5,25%, kata Kiswoyo, kemungkinan juga karena melihat pola ini. Maka dari itu sebelum terjadi pelemahan dolar, BI segera mengeluarkan kebijakan seperti reaktivasi SBI tenor 9 dan 12 bulan untuk menarik dolar AS masuk.
"Jangan sampai ketika dolar melemah, rupiah kembali kuat baru kebijakan keluar. Nanti jadinya telat. Harus dari sekarang," cetusnya.
Kebijakan baru diakui Kiswoyo masih butuh waktu. Naiknya suku bunga 7 Day Reverse Repo dan ditahan di 5,25% bertujuan menjaga spread atau selisih BI rate dengan Fed Fund rate mininal 3%. Ini untuk meminimalisir bila ada gejolak.
Hal itu terjadi setelah BI dia nilai terlambat berpacu di rezim bunga tinggi saat The Fed dahulu telah memberi sinyal kenaikan suku bunga. Akibatnya spread sempat hanya 2,5%.
"Jadi BI kini kejar spread ke 3,25%. Kemudian SBI dihidupkan lagi. Dengan SBI di 6,25%, spread dengan FFR sekitar 4%. Ini sangat memancing asing banyak masuk ke Indonesia," jelas Kiswoyo.
Terpisah, Bank Indonesia berhasil mengantongi Rp5,9 triliun dari hasil Sertifikat Bank Indonesia (SBI), pada lelang perdananya pasca reaktivasi SBI.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menjelaskan, SBI bertenor 9 dan 12 bulan kembali diaktifkan guna menyerap dana asing (inflow) sehingga dapat menambah instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Lelang yang dilaksanakan pada 23 Juli hasilnya cukup baik. Masuk lelang (melakukan penawaran) ada Rp14,2 triliun dan yang dimenangkan Rp5,9 triliun. Jadi minatnya cukup tinggi. Ketentuannya sama (seperti yang dahulu), holding period-nya 7 hari," jelas Nanang, Selasa (24/7) di kantornya, Jakarta.
Hasil lelang penawaran yang masuk untuk SBI tenor 9 bulan mencapai Rp7,88 triliun. Adapun total pemenang lelang hanya Rp 418 triliun. Penawaran SBI tenor 12 bulan mencapai Rp6,35 triliun dengan total pemenang hanya Rp1,79 triliun. Adapun bunganya rata-rata 6%.
Rata-rata yang melakukan penawaran adalah perbankan, belum ada dana asing. Pasalnya dana asing baru bisa masuk setelah tujuh hari.
Meskipun begitu, Nanang enggan menyebutkan bank apa saja yang ikut lelang dan siapa yang dimenangkan. Pelanggan SBI tidak akan berbarengan dengan lelang SBN agar pasar tidak terdistorsi. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved