Kamis 09 April 2015, 00:00 WIB

Kredit Apartemen 2015 Akan Stagnan

Irene Harty | Ekonomi
Kredit Apartemen 2015 Akan Stagnan

MI/RAMDANI

 
EKSPANSI  kredit properti terutama apartemen di wilayah Jabodetabek diperkirakan akan stagnan di 2015. Hal itu dikemukakan PT ICRA Indonesia dalam konferensi pers diskusi ulasan kinerja 2014 dan prospek 2015 untuk sektor perbankan, pertambangan, dan property, di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Kamis (9/4).

"Ekspansi kredit di 2014 mencapai 12,8%, 2015 diperkirakan stagnan karena bank masih akan lebih dulu melihat realisasi pajak, apa sesuai dengan ekspektasi atau enggak," ujar Manager Corporate Ratings PT ICRA Indonesia, Setyo Wijayanto. 
Dia menyebut ada tiga aturan pajak yang akan direvisi dalam waktu dekat yakni Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan (PPh), dan Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM). Bila revisi disetujui maka harga properti terutama apartemen akan meningkat karena ada peningkatan pajak. Itu berarti permintaan dan penawaran akan tertekan dan memperlambat sektor properti.

"Aktivitas ekonomi juga tidak bertumbuh signifikan di tahun ini," kata Setyo. Oleh sebab itu ekspansi kredit apartemen belum akan bertumbuh sepanjang 2015. Ekspansi kredit apartemen 2014 menurun jika dibandingkan dengan 2013 yang sebesar 13,2%. Hal itu karena aturan kredit yang lebih ketat dan pertumbuhan penjualan unit apartemen melemah 0,9%.

"2013 didukung oleh KPA (kredit pemilikan apartemen) dan KPR (kredit pemilikan rumah)sebesar 26,6%," tambah Setyo. Secara umum bank sentral mencatat pinjaman kepada sektor real estat pada umumnya tumbuh lebih lambat menjadi 19,1% atau senilai Rp90,4 triliun di 2014.

Sektor real estat juga bertumbuh beriringan dengan produk domestik bruto. Pada tahun lalu pertumbuhan hanya 5% atau sama dengan pertumbuhan PDB karena pasar kurang menguntungkan dan di 2015 masih akan sama karena masa transisi dan reformasi pemerintah baru masih berlangsung.

Menilik 2013 pertumbuhan sektor real estat lebih besar dengan 6,5% ketimbang PDB 5,6%, 2012 juga masih lebih tinggi di 7,4% dari PDB 6%, dan 2011 juga sama 7,7% lebih besar dari PDB 6,2%. "Asumsi pertumbuhan penduduk per tahun mencapai 1,4% dan komposisi rumah tangga 4 orang memiliki permintaan 860-910 ribu per tahun untuk lima tahun ke depan," jelas Setyo. Hal itu akan ditambah dengan backlog perumahan berkisar 13,6 juta yang ditargetkan selesai 20 tahun mendatang.

Dengan begitu potensi permintaan rumah baru akan mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta per tahun hingga 2018. Pada saat itu pertumbuhan penduduk akan mencapai 266,5 juta yang didorong oleh tren urbanisasi dan ketersediaan pinjaman bank. (E-1)

Baca Juga

Dok. Bhinneka.com

Bhinneka dan Yayasan Indonesia Setara Perkuat Kolaborasi Lewat Kajian Ekonomi 5

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Mei 2022, 23:25 WIB
Hendrik Tio menjelaskan, Bhinneka hadir sebagai kurator UMKM berkualitas dengan mengkurasi para pelaku UMKM untuk bisa hadir di platform...
Dok. JULO

Kolaborasi JULO dan BukuWarung Perluas Akses Kredit untuk Pembiayaan Modal Usaha 7 Juta UMKM

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Mei 2022, 22:39 WIB
Sejak Agustus 2021, JULO bekerja sama dengan BukuWarung memberikan akses kredit digital ke 7 juta UMKM pengguna BukuWarung di...
Dok. Lanxess

Lanxess Gelar Virtual Days Sosialiasi Perkembangan Industri Bahan Kimia Khusus

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Mei 2022, 22:30 WIB
Webinar akan digelar dalam berbagai bahasa dengan basis waktu berbeda-beda bagi wilayah Eropa dan Timur Tengah (EMEA), Asia, India, dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya