Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Indonesia Harus Bisa Manfaatkan Perang Dagang AS-Tiongkok

Erandhi Hutomo Saputra
18/6/2018 17:53
Indonesia Harus Bisa Manfaatkan Perang Dagang AS-Tiongkok
(tiyok)

PERANG dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang kian memanas jangan sampai hanya membuat Indonesia gigit jari. Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB UI) Toto Pranoto mengatakan Indonesia harus bisa mengambil peran positif dengan menjadi mediator perdagangan bagi AS dan Tiongkok, bukan sekadar menjadi pasar bagi mereka.

"Kalau ada dua negara besar mengalami perang dagang kan berarti mereka cari jalan alternatif dari negara yang bisa dijadikan negara transit untuk bisa menjual barangnya ke negara tujuan. AS cari partner negara mana untuk memasukkan barangnya ke Tiongkok, begitu juga sebaliknya, tujuannya supaya pengenaan pajak bisa dihindari," ujar Toto saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Senin (18/6).

AS mengumumkan akan memberlakukan tarif tambahan 25% pada produk Tiongkok senilai US$ 34 miliar pada 6 Juli. Aksi itu dibalas Tiongkok dengan rencana pengenaan tarif dan bea cukai juga sebesar 25% untuk produk-produk AS.

Toto mengatakan, dari situasi tersebut, Indonesia bisa memainkan peran dengan mengolah produk asal Tiongkok sebelum di ekspor ke AS. Begitu juga terhadap produk AS, Indonesia harus mengolahnya sebelum diekspor ke Tiongkok.

"Itu yang mesti disiasati, jangan sekedar jadi negara tumpahan produk dari AS dan Tiongkok, tapi harus diolah sehingga barang yang kita kirim ke Tiongkok atau AS punya nilai tambah yang lebih, itu kesempatannya, jangan sekedar jadi negara transit," jelasnya.

Meski jadi mediator perdagangan, Toto mengingatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi tempat transit bagi produk dari kedua negara itu, tanpa mengolah terlebih dahulu. Sebab jika demikian, Indonesia tidak akan mendapat manfaat yang besar.

"Produk yang bisa memberi nilai tambah bisa diproses, sehingga ketika di re-ekspor bisa punya nilai yang lebih tinggi dari produk aslinya, jangan hanya jadi broker saja, itu mentalitas pedagang," ungkapnya

Terpisah, Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengatakan, sisi positif adanya perang dagang yakni kedua negara tersebut mulai melirik Indonesia sebagai partner baru.

"Yang jelas dari pihak Tiongkok sudah mulai mengalihkan (perdagangan ke Indonesia). Biasanya beli kedelai atau soya dari Amerika keliatannya akan dialihkan dan membeli kelapa sawit kita," jelasnya.

Meski menguntungkan dalam beberapa hal, namun secara umum ia melihat perang dagang itu lebih banyak merugikan. Sebab rantai perdagangan dunia akan terganggu.

"Saat ini setiap negara itu mempunyai bidang masing-masing, dia punya kekuatan apa. Sehingga terkait perang dagang ini bisa mengacaukan rantai perdagangan dunia, pada akhirnya AS akan menghadapi kondisi yang tidak efisien," pungkasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya