Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA pemerintah mengendalikan harga pangan selama Ramadan terbilang cukup berhasil. Pergerakan harga sejumlah bahan pokok sampai lebaran terpantau tidak mengalami lonjakan signifikan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tidak menampik terdapat beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan, namun besarannya tidak terlalu fantastis.
"Lebaran tahun ini alhamdulilah suasananya baik. Harga cukup baik. Praktis tidak ada yang naik atau terjadi lonjakan," ujar Darmin, di sela-sela open house di kediamannya, Jakarta, Sabtu (16/6).
Darmin mengatakan komoditas telur, cabai dan bawang mengalami kenaikan harga, namun relatif tipis. Begitu pula dengan harga beras yang cukup terkendali seiring menguatnya stok.
"Untuk cabai, beras dan apalagi daging, tidak turun, tidak naik juga. Jadi tahun ini masyarakat merayakan Lebaran dengan harga yang tidak mengganggu lagi," tutur Darmin.
Lebih lanjut dia menekankan pemerintah sudah fokus menjaga stabilitas harga komoditas pangan strategis sebelum memasuki periode Ramadan. Hasilnya, harga sejumlah bahan pokok bergerak ke arah turun.
Darmin lantas mencontohkan harga beras jenis medium yang kian mendekati harga eceran tertinggi (HET). Pemerintah diketahui mematok HET untuk beras medium sebesar Rp9.450 per kilogram (kg).
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga beras kualitas medium I per 14 Juni 2018 tercatat Rp11.300 per kg, sedangkan harga beras kualitas medium II sebesar Rp9.850 per kg.
"Pemerintah cukup fokus menjaga harga selama puasa dan Lebaran. Kita memang mengawali sebelum puasa, harga beras turun. Sempat naik tapi kemudian bisa kita kendalikan meski belum normal sekali. Tapi sudah mengarah turun, sehingga kita percaya masih bisa terus turun," kata mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut.
Pihaknya optimistis belanja masyarakat sepanjang Ramadan hingga Lebaran mampu meningkatkan kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2018.
Di sisi lain Darmin mengakui momentum Ramadan membuka celah importasi bahan baku atau penolong untuk kebutuhan industri seiring bertambahnya permintaan.
"Lebaran itu menaikan belanja orang. Orang mudik misalnya. Yang tadinya nyimpen duit, sekarang kesempatan untuk belanja agar keren lah (saat berkumpul bersama keluarga). Pasti ada dampaknya. Setiap tahun Lebaran itu mempengaruhi perkembangan ekonomi," jelas Darmin.
Ditemui dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar memastikan posko pemantauan stok dan distribusi BBM tetap berjalan sampai arus balik. Dia berharap penyaluran BBM pada arus balik cukup kondusif, seperti halnya dengan kelancaraan pada arus mudik Lebaran.
Dia pun menekankan perlu ada antisipasi khusus jelang puncak arus mudik yang jatuh pada 19-20 Juni mendatang. "Setelah Lebaran, posko kita tetap jalan. Dan kita berharap setelah lebaran ini kelancarannya bisa sama seperti sebelum Lebaran. Semuanya sama, persiapan kita baik arus mudik maupun arus balik," tutur Arcandra.(A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved