Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kondisi Utang Malaysia Lebih Gila

Andhika Prasetyo
04/6/2018 20:25
Kondisi Utang Malaysia Lebih Gila
(FOTO ANTARA/Eric Ireng)

PENGAMAT ekonomi Tony Prasetiantono mengatakan masyarakat tidak bisa menyamaratakan kondisi ekonomi Indonesia dengan Malaysia, terutama dalam hal utang negara.

Sejak pucuk kepemimpinan diambil alih Mahathir Mohamad, banyak kebijakan tidak terduga yang dilakukan mulai dari membuka rekening donasi tabungan hingga menghentikan proyek-proyek berbiaya besar seperti kereta cepat. Semua itu dilakukan untuk membantu menutup utang negara yang mencapai Rp3.500 triliun.

Tony menilai hal itu adalah sesuatu yang wajar karena kondisi utang Malaysia sangat parah, jauh di atas Indonesia.

"Situasinya berbeda. Malaysia sedang berada pada rezim yang korup luar biasa. Utangnya besar. Rasio utang terhadap PDB (produk domestik bruto) mereka sudah di atas 60%. Bahkan ada kemungkinan manipulasi data karena menurutnya sudah mencapai 80%. Sementara Indonesia hanya sekitar 30%," ujar Tony kepada Media Indonesia, Senin (4/6).

Ia juga mengapresiasi respons masyarakat Malaysia yang secara sukarela menginisiasi kegiatan patungan untuk membantu membayar utang negara. Meski begitu, hasilnya bisa dikatakan tidak banyak berpengaruh.  

"Walaupun itu hanya sebuah simbolis, secara nilai tidak ada artinya, apa yang dilakukan di sana sangat baik," tuturnya.

Menurut Tony, dukungan yang datang dari masyarakat itu akan membantu pemerintah secara moril.

"Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Bisakah kita seperti itu? Pada intinya situasi kita tidak sama. Tidak bisa disamakan begitu saja. Malaysia itu sudah parah. Kita juga ada utang dan korupsi, tetapi Malaysia lebih gila," tandasnya. (A-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya