Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Perluasan Lahan Pertanian Solusi Capai Ketahanan Pangan Nasional

Putra Ananda
22/5/2018 21:04
Perluasan Lahan Pertanian Solusi Capai Ketahanan Pangan Nasional
( ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

KETERSEDIAAN pangan dalam negri sangat bergantung pada produksi para petani. Ketahanan pangan yang baik sangat menentukan sumber daya manusia suatu bangsa. Hal itu diungkapkan Dewan Pendiri dan Ekonom Senior INDEF Bustanul Arifin dalam acara Dialog Selasa yang diadakan di Kantor DPP Partai NasDem di Jakarta, Selasa (22/5).

"Mana mungkin kita meningkatkan daya saing bangsa jika akses kepada pangan masih bermasalah," ujar Bustanul.

Dia mengatakan ketahanan pangan juga dapat tercapai melalau peran organisasi profesi, kemasyarakatan, dan kemitraan yang sama-sama peduli terhadap perkembangan ketahanan pangan di Indonesia.

"Mudah-mudahan partai politik sebagai peruwjudan dari civil society tetap menaruh kepededulian terhadap ketahanan pangan. Kalau ini terwujud mungkin masih ada harapan swasembada bisa terwujud," paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pertimbangan DPP NasDem, Siswono Yudo Husodo juga mengatakan pemerintah perlu mempertimbangkan upaya perluasan lahan pertanian sebagai salah satu solusi strategis guna mencapai ketahanan pangan nasional. Menyempitnya lahan pertanian menjadi salah satu penyebab turunnya produksi bahan pangan.

"Lahan pertanian yang terus menerus semakin menyempit berdampak luas pada lambannya modernisasi atau mekanisasi pertanian dan miskinnya petani," ujar Siswono.

Siswono melanjutkan, ratio luas lahan pertanian pangan dengan jumlah penduduk Indonesia masih sangat rendah. Saat ini Indonesia hanya memiliki 358,5 m2/kapita lahan sawah aktif. Ditambah dengan lahan pertanian kering, jumlah total lahan pertanian Indonesia hanya mencapai 451,1 m2/kapita. Berbanding jauh dengan salah satu negara ekportir beras terbesar yaitu Thailand dengan ratio luas lahan pangan pertanian sebesar 5.225,9 m2/kapita.

"Kondisi ini yang membuat Indonesia tidak bisa memenuhi sendiri kebutuhan pangannya yang beraneka ragam seperti beras, jagung, kedelai, gula tebu, cabe, bawang, dll," tuturnya.

Salah satu penyebab menyempitnya lahan pengusahaan per petani dikatakan oleh Siswono adalah adanya tradisi mewariskan lahan ke generasi berikutnya yang dialih fungsikan bukan untuk kebutuhan pertanian. Siswono menilai, jika praktek pewarisan tanah tidak dirubah, maka sulit bagi Indonesia untuk mencapai kemandirian dalam sektor swasembada pangan.

"Penyusutan lahan pangan terlah berlangsung secara masif sejak tahun 1980, sementara pembukaan areal pertanian baru tidak seimbang," ungkapnya.

Siswono melanjutkan, idealnya Indonesia saat ini memerulka perluasan tahan pertanian sebesar 200.000 hektare tiap tahunnya untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan dalam negri. Sedangkan untuk mencapai negara eksportir pangan Indonesia butuh memperluas lahan pertanian sebesar 300.000 hektare per tahun.

"Program tersebut perlu diiringi dengan modernisasi pengolahan tanah, benih, pupuk, penanggulangan hama, serta cara panen gua meningkatkan daya saing," paparnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya