Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Ekspor ke Mitra Dagang Utama Merosot

Tesa Oktiana Surbakti
15/5/2018 19:40
Ekspor ke Mitra Dagang Utama Merosot
(ANTARA)

KINERJA ekspor Indonesia ke beberapa negara mitra dagang utama, seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, menurun pada periode April 2018. Penurunan ekspor turut dipengaruhi situasi perdagangan dunia yang tengah bergejolak.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan penurunan ekspor Indonesia ke Tiongkok per April 2018 mencapai US$537 juta jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. 'Negeri Tirai Bambu' merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan kontribusi hingga 15,24%. Adapun nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok tercatat US$1,81 miliar.

“Situasi perdagangan dunia sedang tidak menentu, ada potensi Tiongkok menahan produksi. Ekspor Indonesia ke Tiongkok turun dari US$2,4 miliar (Maret 2018) menjadi US$1,8 miliar (April 2018). Apa yang membuat kita (BPS) yakin Tiongkok menahan diri? Terlihat dari ekspor bahan bakar mineral yang turun, besi dan baja, berikut lemak dan minyak hewan nabati,” tutur Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Selasa (15/5).

Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto, menekankan situasi perdagangan dunia masih perlu diwaspadai. Mulai dari fluktuasi harga komoditas, gejolak faktor geopolitik di sejumlah kawasan, maupun potensi perang tarif yang digencarkan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Selain itu, kinerja ekspor Indonesia ke Amerika Serikat periode April 2018 pun turun US$158,7 juta. Penurunan kinerja ekspor bersumber dari komoditas besi dan baja, barang rajutan, serta lemak dan minyak hewan nabati. 'Negeri Paman Sam' berkontribusi terhadap pangsa pasar ekspor Indonesia sekitar 10,94%. Pun dengan India, terjadi penurunan kinerja ekspor sekitar US$155,1 juta.

“Sementara itu, performa ekspor kita ke beberapa negara seperti Bangladesh, Filipina dan Malaysia terjadi kenaikan. Dengan Bangladesh, ekspor kita meningkat US$101,8 juta yang mencakup komoditas lemak dan minyak hewan nabati. Sedangkan dengan Filipina, meningkat US$42,3 juta yang dipengaruhi kendaraan dan bagiannya. Adapun ekspor ke Malaysia meningkat US$41,2 juta dengan kenaikan ekspor besi dan baja,” jelasnya.

Ke depan, sambung Kecuk, diversifikasi komoditas ekspor dan perluasan pasar harus digencarkan untuk mendongkrak kinerja ekspor ke beberapa negara mitra dagang, sekaligus meningkatkan daya saing.

Tidak sampai di situ, struktur ekspor nasional yang masih bertumpu pada komoditas perlahan harus beralih ke sektor industri manufaktur yang mempunyai nilai tambah. Menurut Kecuk, ekspor berbasis komoditas cenderung rentan terdampak fluktuasi harga komoditas dan pelemahan kurs (baca juga: Ekspor Nonmigas Melemah Sumbang Defisit Dagang April 2018). (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya