Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
TREN melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih belum menunjukkan tanda-tanda berbalik menguat. Kenaikan laju inflasi membayangi disertai arus modal asing yang cenderung bergerak meninggalkan Indonesia.
Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan penaikan suku bunga acuan bank sentral. Meski begitu, Analis Fixed Income MNC Sekuritas, I Made Adi Saputra menilai Bank Indonesia masih akan banyak berhitung.
"Bank Indonesia saya perkirakan juga tidak akan gegabah dengan menaikkan suku bunga terlalu agresif. Karena hal tersebut justru akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Saya perkirakan, andaipun naik, kenaikan (suku bunga) akan sebesar 25 bps (basis poin) di 4,50%," tutur Made, saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (11/5).
Lebih lanjut Made mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah memengaruhi minat investor asing untuk berinvestasi di Surat Utang Negara (SUN). Meski begitu, SUN masih akan tetap diminati.
Yang tepengaruh besar terhadap pelemahan rupiah adalah investor asing. Adapun kalau bila melihat data, investor domestik justru yang aktif melakukan akumulasi, diantaranya adalah asuransi dan dana pensiun.
"Bagi investor domestik justru ada peluang di saat pasar SUN terkoreksi," terang Made.
Made mengatakan, data per 8 Mei 2018, asuransi telah mengakumulasi SBN senilai Rp18,06 triliun, sedangkan dana pensiun mengakumulasi Rp13,49 triliun, dihitung sejak awal tahun ini.
Dengan laju inflasi yang terkendali, pada April 2018 inflasi tahunan tercatat sebesar 3,41%. Sementara itu, tingkat imbal hasil SUN dengan tenor 10 tahun ada di kisaran 7,4%.
"Artinya real return dari SUN yang didapat dengan cara mengurangi yield SUN dengan inflasi didapatkan angka 3,41%," papar Made.
Imbal hasil SUN ke depan masih akan dipengaruhi oleh faktor pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Hal tersebut tidak lepas dari komposisi investor asing yang menempatkan dananya di Surat Berharga Negara (SBN) cukup besar, yaitu lebih dari 38%.
"Stabilitas nilai tukar menjadi hal penting bagi investor asing," tutur Made.
Tingginya imbal hasil yang diminta oleh investor saat lelang Selasa (11/5) turut dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang belum menunjukkan tanda-tanda stabil dalam sepekan terakhir. Rupiah justru telah menembus level 14.000 per dollar AS.
"Sepanjang rupiah cenderung melemah, masih akan diikuti dengan permintaan yield yang tinggi terutama dari investor asing guna mengantisipasi depresiasi yang terjadi di nilai tukar rupiah," ungkap Made.
Menurut Made, level wajar imbal hasil SUN selain dipengaruhi oleh pelemahan rupiah juga mengikuti pergerakan imbal hasil dari US Treasury atau obligasi negara AS.
MNC Sekuritas memperkirakan imbal hasil SUN dengan tenor 10 tahun akan berada di level 6,90%-7,10%. Hal itu dengan catatan b nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu kembali stabil di bawah 14.000 dan imbal hasil dari US Treasury tidak bergerak lebih dari 3% di akhir tahun. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved