Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo mengingatkan bahwa industri hulu migas menghadapi tantangan berat. Tantangan itu adalah kian gencarnya pemanfaatan energi terbarukan di seluruh dunia. Namun, Presiden yakin bahwa minyak bumi tetap dibutuhkan di masa mendatang.
"Tahun ini industri kendaraan listrik akan menghilangkan permintaan minyak global sekitar 279.000 barel per hari. Dengan semakin naiknya harga minyak, sudah pasti memicu semakin banyak sektor bergeser ke teknologi energi terbarukan sehingga mengurangi ketergantungan pada minyak,” kata Presiden ketika meresmikan Konvensi dan Pameran Asosiasi Perminyakan Indonesia Ke-42, Rabu (2/5) di Jakarta.
kegiatan itu merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan para pelaku industri hulu minyak dan gas bumi di Indonesia.
Selain Presiden, acara peresmian dan pembukaan dihadiri juga Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, serta sejumlah pejabat perusahaan hulu migas.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyebut generasi muda saat ini yang biasa disebut milenial enggan bekerja di sektor minyak dan gas (migas). Pasalnya kini reputasi dan budaya di sektor ini dianggap kurang menguntungkan.
Menurutnya, generasi muda nasional lebih tertarik bekerja di bidang IT, misalnya e-commerce, bukan semata-mata mencari banyak penghasilan, namun karena pekerjaannya disukai.
"Dari yang saya baca dan dari diskusi saya dengan anak muda yang sudah masuk e-commerce, IT, mereka senang masuk sektor ini bukan karena kejar banyak duitnya saja. Di startup berkaitan IT ini di awal-awal hanya sanggup bayar gaji tidak gede. Mereka masuk e-commerce juga karena idealisme," tandasnya.
Tetap primadona
Di sisi lain, Presiden Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA) Ronald Gunawan mengatakan, migas tetap akan menjadi primadona dalam beberapa puluh tahun mendatang di seluruh dunia. Di Indonesia, kebijakan energi nasional masih mematok porsi minyak bumi sebesar 44% dalam bauran energi nasional pada 2050.
"Jadi, migas masih jadi tulang punggung energi nasional 20-30 tahun ke depan,” ujar Ronald di kesempatan sama.
Meski demikian, jelasnya, untuk menjaring investasi di sektor migas Indonesia harus menghadapi persaingan global. Untuk menarik investasi di sektor migas persaingannya sangat ketat, oleh sebab itu Indonesia harus mampu meningkatkan daya saing di tingkat global.
"Kami mengharapkan perbaikan iklim investasi migas di Indonesia terus dilanjutkan sehingga dapat meningkatkan jumlah serta mempercepat proyek-proyek migas untuk berproduksi," pungkasnya. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved