Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PASAR keuangan diyakini bakal tertekan seiring munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate/FFR). Namun demikian, sistem keuangan Indonesia pada triwulan I 2018 diprediksi masih terkendali. Itu tidak lepas dari membaiknya fundamental ekonomi Indonesia yang tercermin dari terkendalinya inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
"Secara umum stabilitas sistem keuangan triwulan I 2018 terkendali walaupun ada tekanan pada pasar keuangan, terutama (akibat) ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS yang lebih agresif merespons perbaikan ekonomi AS," ujar ekonom Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (1/5).
Tekanan pada pasar keuangan, sambung dia, cenderung didominasi peningkatan risiko sistem keuangan global yang ditandai oleh koreksi kinerja pasar keuangan global. Kenaikan volatilitas nilai tukar mata uang global, khususnya mata uang negara berkembang juga turut memengaruhi.
Sampai akhir April 2018, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar US$ 2,46 miliar (year to date) di pasar saham meskipun kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) masih meningkat sekitar US$ 755 juta (year to date) per 26 April 2018. Dengan begitu, secara keseluruhan, investor asing mencatatkan "net sell" sebesar US$ 1,71 miliar hingga akhir April 2018.
Alhasil, kondisi tersebut mendorong pelemahan rupiah sebesar 2,5 persen (year to date). Namun, rupiah tidak sendiri. Sejumlah negara berkembang lainnya juga mengalami pelemahan mata uang semisal, peso Argentina yang melemah -9,3 persen (year to date), lira Turki melemah -6,5 persen (year to date), rupee India melemah -4,2 persen (year to date) dan peso Filipina melemah sebesar -3,6 persen (year to date).
"Bila dilihat, perbaikan fundamental ekonomi Indonesia ditunjukkan beberapa indikator makro. Di antaranya inflasi yang terkendali, serta pertumbuhan ekonomi yang stabil. Keseimbangan eksternal yang terkendali masih tetap menopang kinerja mata uang dan tetap mendorong investasi, baik investasi portofolio dan investasi di sektor riil," imbuh Josua.
Di lain sisi, stabilitas di sektor perbankan pun tetap terjaga dengan baik. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan rasio rasio permodalan, peningkatan rasio rentabilitas, turunnya risiko kredit, serta terkendalinya risiko likuiditas dan risiko pasar. Kendati demikian, menurut Josua, terdapat sejumlah hal yang perlu dicermati, semisal pertumbuhan kredit perbankan yang cenderung prosiklikal dengan pertumbuhan ekonomi, posisi Utang Luar Negeri (ULN) korporasi non bank yang relatif tinggi, dan tingginya kepemilikan investor asing di pasar keuangan domestik.
Namun demikian, Josua memandang Bank Indonesia sudah melakukan langkah stabilisasi di pasar valas dalam rangka meredam volatilitas nilai tukar rupiah dan pasar SUN. "Bank Indonesia cenderung akan melakukan langkah intervensi dan berhati-hati dalam penyesuaian suku bunga kebijakan hingga akhir tahun ini. Bank Indonesia juga akan memperkuat first line of defense dalam hal capital management, yaitu dengan terus memperkuat cadangan devisa seperti rasio cadangan devisa impor,” ujarnya. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved