Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
Pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama tahun 2018 bisa dikatakan melambat dengan tumbuh 2,3%, dari kuartal ke empat 2017 yang sebesar 2,9%. Kepala departemen ekonomi Center of Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri melihat ada kemungkinan ini akan bisa nilai tukar mata uang negara lain serta bursa saham kembali menguat.
Walaupun begitu, ini juga bisa diartikan bahwa pemulihan ekonomi masih tertatih-tatih. Ditambah lagi dengan berbagai ketidakpastian yang ada, seperti perang dagang, kondisi di Timur Tengah dan lainnya.
Di tengah kepastian tersebut, maka para investor portofolio cenderung akan mengambil langkah aman sehingga mereka mungkin menaruh uangnya di tempat yang aman juga.
Amerika tetap menjadi pilihan, begitu pula dengan negara maju lainnya. Meskipun imbal hasil yield treasury AS 10 tahun kembali di angka 2,962% dari lonjakannya kemarin yang menyentuh 3,03%. Capital, kata Yose, akan lari dari emerging market termasuk Indonesia.
"Jadi ini tergantung apakah yield yang diterima dari emerging market sesuai dengan resiko yang dilihat investor dari kondisi global saat ini," ujarnya saat dihubungi, Senin (30/4).
Semakin tinggi yield dan return di Indonesia akan memberikan insentive lebih tinggi untuk investor meskipun resiko global meningkat.
"Kalau memang tujuan dari BI adalah meningkatkan nilai rupiah, mungkin menaikan suku bunga adalah pilihannya. Tetapi pertanyaannya apakah memangnya kita membutuhkan nilai tukar yang lebih kuat? Apalagi jika mata uang negara emerging lain menjadi lebih lemah,"
Alasannya kalau negara lain malah melemahkan nilai tukar mereka, dan Indonesia bersikeras memperkuat nilai tukar saat ini tentunya tidak baik untuk perekonomian. Bika rupiah dijekar menguat sekarang, malah dampak jangka panjang tekanannya semakin berat.
"Indonesia menjadi tidak kompetitif. Ekspor kita menjadi lebih mahal sementara impor menjadi lebih murah. Akibatnya di masa panjang tekanan terhadap rupiah akan semakin berat," tukas Yose Rizal. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved